<< back

TETAP PERCAYA DITENGAH-TENGAH PENDERITAAN

"Ketika itu Yusuf tidak dapat menahan hatinya lagi di depan semua orang yang berdiri di dekatnya, lalu berserulah ia: "Suruhlah keluar semua orang dari sini." Maka tidak ada seorangpun yang tinggal di situ bersama-sama Yusuf, ketika ia memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya. Setelah itu menangislah ia keras-keras, sehingga kedengaran kepada orang Mesir dan kepada seisi istana Firaun. Dan Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya: "Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?" Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia. Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: "Marilah dekat-dekat." Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: "Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir. Segeralah kamu kembali kepada bapa dan katakanlah kepadanya: Beginilah kata Yusuf, anakmu: Allah telah menempatkan aku sebagai tuan atas seluruh Mesir; datanglah mendapatkan aku, janganlah tunggu-tunggu. Engkau akan tinggal di tanah Gosyen dan akan dekat kepadaku, engkau serta anak dan cucumu, kambing domba dan lembu sapimu dan segala milikmu. Di sanalah aku memelihara engkau--sebab kelaparan ini masih ada lima tahun lagi--supaya engkau jangan k miskin bersama seisi rumahmu dan semua orang yang ikut serta dengan engkau. Dan kamu telah melihat dengan mata sendiri, dan saudaraku Benyamin juga, bahwa mulutku sendiri mengatakannya kepadamu. (Kejadian 45:1-12)

Apakah Kita pernah kecewa atau menjadi ragu-ragu kepada Tuhan setelah menghadapi masalah dan penderitaan dalam hidup kita ? Apakah kita boleh marah kepada Tuhan ? Apalagi jika seseorang dalam hidupnya rajin beribadah, taat melakukan perintah-perintah Tuhan bukan saja dapat kecewa dengan Tuhan tetapi bisa meninggalkan imannya. Tuhan kita adalah Tuhan yang berkenan untuk diri-Nya dikenal, Ia memperkenalkan diri-Nya melalui karakter manusia, dan bahasa-bahasa manusia sehingga Ia dapat dikenal. Kita dapat mengenal Tuhan lewat masalah dan penderitaan yang dialami oleh manusia.

Iman yang kurang baik adalah iman yang mencari-cari penyebab masalah yang terjadi. Sama seperti kisah seseorang yang buta dan orang bertanya siapa yang salah dari orang buta tersebut, tetapi Tuhan menjawab tidak ada yang salah tetapi kemuliaan Tuhan mau dinyatakan kepada orang buta tersebut. Banyak orang terjebak ketika menghadapi masalah mencari-cari penyebab masalah yang terjadi, sebenarnya dalam mencari penyebab bisa bukan menjadi lebih baik bahkan menjadi lebih buruk.

Sama sperti apa yang dialami oleh Yusuf mengalami banyak penderitaan dalam hidupnya, ia bisa saja mencari-cari apa penyebab semua yang dialaminya ? tetapi di dalam firman Tuhan tidak kita jumpai bahwa Yusuf mencari-cari penyebab-penyebab mengapa masalah terjadi dalam hidupnya. Ketika Yusuf menjadi orang kedua di Mesir terjadi kelaparan, dan saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk mengambil makan di Mesir tetapi Yusuf tidak marah dan benci kepada saudara-saudaranya yang telah menjual Yusuf.

Jangan bertanya dan mencari-cari apa penyebab masalah dan penderitaan yang kita hadapi dan jangan menyalahkan siapa-siapa. Tuhan menginjinkan masalah dan penderitaan terjadi dalam hidup untuk membentuk kita. Kita harus memiliki iman yang jauh bisa melihat kedepan. Dunia adalah pancaran hati kita, kalau hati penuh dengan kebencian dan pahit maka dunia penuh kebencian dan pahit tetapi kalau hati kita penuh dengan ucapan syukur, penuh pengharapan maka duniapun penuh dengan sukacita dan pengharapan. Dunia ini sangat tergantung dengan hati kita oleh sebab itu jaga hati kita dengan segala kewaspadaan karena dari situlah memancar kehidupan. oleh sebab itu jangan sesali apa yang terjadi dalam hidup kita dan jangan mencari-cari penyebab yang terjadi. Tetap percaya kepada Tuhan di tengah-tengah masalah dan penderitaan yang kit alami. Amin…!

"TUHAN YESUS MEMBERKATI"