• Pdp. Marcos Tampubolon, SE
  • 26 November 2017
  • 2PM - Pk. 14:00 WIB
  • Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu.
<< back

Yang Terakhir Menjadi Yang Terdahulu (Seri Khotbah Relationship With God)

"Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi. katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir." (Matius 20:1-16)

Beberapa dari orang dari peristiwa di atas memiliki penilaian berdasarkan logika yang berkata bahwa Tuhan tidak adil. Manusia mempunyai penilaian rangking sendiri atau punya cara pandangnya sendiri untuk menilai Tuhan, tetapi Tuhan memiliki penilaian yang berbeda dengan manusia.

"Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. (Mat. 20:1)

Tuhan sedang menawarkan kepada kita kepada pecinta-pecinta atau pencari-pencari Tuhan bawha budaya dari surga memiliki budaya menjadi orang orang yang menerapkan firman Tuhan. Salah satu budaya kerajaan Allah adalah kita harus dapat bersama-sama bersuka cita dengan orang yang bersuka cita dan menangis dengan orang yang menangis, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! (Rm 12:15). Tanpa kita sadari kita justru senang dengan orang yang menangis karena kita seperti mereka. Yang penjadi penghalang dari kita untuk menilai adil atau tidaknya Tuhan tergantung dari saringan yang kita pakai.

Dalam kehidupan kita sudah punya penilaian rangking sendiri kepada manusia. Dan penilaian rangking tersebut dinilai dari penampilan-penampilan luar saja. Tuhan Yesus menawarkan sistim penilaian rangking yang berbeda dengan sistim penilaian rangking manusia

“Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. (Matius 20:2)

Orang ini bekerja berdasarkan kesepakatan yang dibuat dan melihat berdasarkan ukurannya sendiri. Dan Tuhan memberikan upahnya sesuai dengan kesepakatan yang dibuat. Tetapi orang ini menilai tuannya tidak adil ketika melihat ada pekerja lain yang bekerja hanya satu jam tetapi mendapat upah yang sama dengan dirinya. Tuhan berkata bahwa Tuhan, Ia adalah seorang yang murah hati dan berhak memberikan kepada siapa saja.

Jangan punya rasa iri hati. Singkiran saringan logika yang kita punyai supaya kita dapat melihat jelas penilaian dan Apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kta. Jangan punya saringan kelayakan seseorang berdasarkan penilaian kita, tetapi milikilah penilaian yang baik tentang Tuhan karena Tuhan itu adil dan sempurna.

"TUHAN YESUS MEMBERKATI"