• Ps. Edward Supit
  • 28 Februari 2016
  • 2PM - Pk. 14.00 WIB
  • Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu.
<< back

Pria dan Wanita (Bagaimana Kita Bisa Mengerti Satu Dengan Yang Lain)

Untuk pria dan wanita untuk bisa saling mengerti maka pertama-tama kita harus memahami tentang awal penciptaan yang Tuhan lakukan. Semua yang diciptakan Allah adalah baik tapi dihari yang keenam Allah menciptakan manusia dan Tuhan berkata, "Sungguh amat baik." Ketika Allah melihat Adam sendirian, maka Allah memandang bahwa tidak baik kalau manusia hidup seorang diri. Oleh karena itu, Allah menciptakan seorang wanita yaitu Hawa. Jadi hadirnya seorang wanita bagi seorang pria adalah inisiatif Allah dan  bukan keinginan manusia.

"Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam." (Kej 1:31)
"Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging." (Kej 2:23-24)

Dalam perkembangannya, pernikahan mengalami penurunan nilai yang cukup tajam, data tahun 2010, maka jumlah perceraian mencapai dua ratus ribu lebih pasangan. Manusia melupakan arti sesungguhnya sebuah keluarga yang diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi dan merupakan inisiatif Allah. Lalu bagaimana membangun hubungan yang sesuai dengan blue print karya penciptaan Allah? Ada tiga prinsip agar pria dan wanita bisa membangun hubungan yang sesuai dengan blue print Allah.

  1. Commitment To Responsibility
  2. Pernikahan harus dibangun dalam komitmen yang bertannggung jawab. Kita sedang berada dalam zaman "age of Disposability" yang artinya apa yang sudah tidak berguna maka akan dibuang. Jika zaman dulu pernikahan dimulai dengan kematangan dan dipertahankan sedemikian rupa, maka saat ini, pernikahan bisa menjadi hal yang bila dipandang tidak berguna akan ditinggalkan begitu saja.

    "Therefore shall a man leave his father and his mother, and shall cleave unto his wife: and they shall be one flesh." (Gen 2:24, KJV)

    Marriage = Tying the knot, sebuah komitmen didalam pernikahan dimulai dengan penyatuan yang diprakarsai oleh Allah sehingga apa yang menjadi penyatu sebuah pernikahan adalah kasih Kristus sehingga laki-laki dan perempuan mampu untuk mengerti satu dengan yang lain. Ketidakutuhan keluarga akan membuat generasi yang anak muda yang rusak, hidup liar, tanpa tujuan hidup. Kekuatan komitmen yang bertanggung jawab akan membuat pria dan wanita berpegang teguh pada hubungan yang digagas oleh Allah dan menciptakan generasi yang kuat.

  3. Commitment To Intimacy
    • The Needs to be spirit to spirit union (menjadi 1 roh)
    • "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?" (2 Kor 6:14)
      "Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?" (Amos 3:3)

      Dalam memilih pasangan hidup hendaklah kita melihat kepada rencana dan tujuan Ilahi pria dan wanita dipersatukan Allah.

    • The Needs To Be Soul To Soul
    • Setiap pasangan harus menjadi "sahabat" bagi pasangannya. Seringkali waktu pernikahan yang sudah berjalan cukup lama membuat fokus seseorang berkurang terhadap pasangannya bahkan hadirnya anak membuat energy pasangan terkuras hanya untuk anak. Cintailah pasangan kita dan berikan waktu untuk duduk bersama, liburan bersama dan melakukan aktifitas secara bersama-sama untuk menumbuhkan rasa sayang dan rasa memiliki.

    • The Needs To Be Body To Body
    • Sentuhan akan menimbulkan keintiman diantara pasangan. Ini adalah tingkat keintiman terendah karena yang paling tinggi adalah keintiman secara roh.

  4. Commitment To Transparency
  5. "Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu." (Kej 2:25)
    "Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat." (Kej 3:7)

    Hari-hari ini kita banyak menemukan orang tidak bisa hidup apa adanya karena takut terganggu dengan penerimaan orang lain terhadap dirinya. Lebih cenderung untuk melakukan ini dan itu, memakai ini dan itu hanya untuk diterma oleh komunitas. Terimalah diri kita sebagaimana Allah memandang diri kita, pribadi yang telah dipulihkan mampu menerima dirinya apa adanya.

Allah menciptakan kita pria dan wanita yang memiliki perbedaan yang mencolok namun untuk saling melengkapi. Oleh karena itu bangunlah hubungan yang benar sesuai dengan blue print Allah dalam komitmen yang bertanggung jawab, komitmen untuk hidup intim dan komitmen untuk saling transparan dan menerima satu dengan yang lain. Keluarga yang tangguh akan membangun generasi dan bangsa yang kuat. Amin…

"TUHAN YESUS MEMBERKATI"