• Pdt. Ridwan Hutabarat
  • 15 Juli 2018
  • 2PM - Pk. 14:00 WIB
  • Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu.
<< back

IMAN YANG SEJATI

Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Kata-kata ini, yaitu "hal ini diperhitungkan kepadanya," tidak ditulis untuk Abraham saja, tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita. Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.(Rm. 4:18-5:5)

Konteks kebenaran ini dialamatkan kepada jemaat Roma yang beribadah tetapi sifat mereka tidak berubah. Khotbah bagus dan mujizat bukan merupakan ukuran rohani. Namun ukuran rohani adalah kelakuan.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.(Mat. 6:33)

Alkitab kita terdiri dari dua bagian besar yaitu perintah dan janji. Iman yang sejati apabila fokus kita kepada perintah Tuhan. Jangan berfokus kepada janji Tuhan. Janji Tuhan akan terjadi akibat ketaatan kita.

Iman bukan berbicara tentang sakit yang disembuhkan, namun tentang pengorbanan. Perintah Tuhan adalah kesukaan Tuhan, dan janji Tuhan adalah kesukaan manusia. Manusia beriman adalah manusia ilahi, artinya berimanlah kepada kesukaan Tuhan.

Paulus mengajarkan jemaat Roma tentang iman yang sejati. Berimanlah kepada Firman Tuhan dan fokus terhadap pembentukan karakter seperti yang Abraham lakukan. Tantangan yang dihadapi Abraham merupakan capacity challenge. Orang Kristen harus mengalami tantangan agar makin next level (Rm. 4:18-24).

Dasar iman kita lebih mantap daripada Abraham, karena dia belum mendengar tentang Yesus. Sedangkan kita sudah mengenal dan menerima Yesus. Arti Kristen yang sebenarnya adalah kehendak Tuhan hidup dalam diri kita. Makna kebangkitan Yesus adalah sebuah kepastian karena yang paling berat sudah dikalahkan-Nya. Jangan menyerah dalam menghadapi kesengsaraan karena kesengsaraan menimbulkan ketekunan yang hasil akhirnya adalah pengharapan yang tidak mengecewakan (Rm. 5:1-5).

Dalam iman yang sejati ada pengorbanan dan kesulitan. Dalam pengorbanan dan kesulitan maka capacity challenge kita akan diuji. Ubahlah paradigma kita tentang iman.

"TUHAN YESUS MEMBERKATI"