📌 Ringkasan sebelumnya : Lukas 17
Yesus memperingatkan para murid tentang tanggung jawab mereka terhadap sesama anggota keluarga Allah. Jangan sampai mereka menyesatkan orang lain, jangan sampai ada orang yang karena pengajarannya menyebabkan orang lain jatuh ke dalam dosa atau malah kehilangan iman. Risikonya berat, yaitu nyawanya sendiri. Karena itu orang harus menjaga diri agar tidak berbuat dosa dengan membawa orang lain ke dalam kesesatan.
Tanggung jawab lain sebagai sesama anggota keluarga Allah adalah kemauan untuk mengampuni. Dosa atau kesalahan orang lain hendaknya tidak dijadikan bahan pergunjingan. Jangan dibesar-besarkan atau dianggap sepele. Orang yang telah melakukan kesalahan harus ditegur dan jikalau menyesal, ia harus diampuni, seberapa sering pun ia melakukannya. Memang mengesalkan bila harus mengampuni orang yang berulangkali melakukan kesalahan, tetapi itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Murid Tuhan diminta sedia mengampuni karena itulah yang Tuhan telah lakukan lebih dulu.
Saat memasuki suatu desa di perbatasan antara Samaria dan Galilea, sepuluh orang kusta menemui Tuhan Yesus. Karena berdasarkan Hukum Taurat mereka harus menjaga jarak bila bertemu orang lain, mereka berseru kepada Yesus dari jauh. Mereka memohon belas kasihan-Nya. Namun Yesus tidak mendekati dan menyentuh mereka, seperti yang Ia lakukan pada orang kusta di Lukas 5:13. Yesus hanya menginstruksikan agar mereka pergi dan menunjukkan diri kepada imam-imam. Tindakan ini sebenarnya baru bisa dilakukan saat mereka sembuh, tetapi pada saat itu mereka belum sembuh. Oleh karena itu, mereka harus bertindak di dalam iman dan ketaatan. Benar saja, di tengah jalan mereka pun sembuh!
Bagaimana respons mereka setelah tahu bahwa mereka sembuh? Seharusnya, mereka berterima kasih kepada Yesus. Memang ada yang berterima kasih, tetapi tidak semua. Hanya satu dari antara sepuluh orang yang kembali kepada Yesus untuk berterima kasih dan memuliakan Allah dengan bersorak-sorak.
📖 Pengantar Lukas 18
Sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali, Yesus tahu bahwa dunia ini akan semakin tidak menghargai Allah, seperti pada masa Nuh dan Lot. Gereja akan seperti janda yang mengalami perlakuan buruk dari orang yang tidak percaya Tuhan. Sementara waktu kedatangan Kerajaan Allah tidak sesegera seperti yang diharapkan para murid. Lalu bagaimana murid Tuhan dapat bertahan dalam masa sulit itu?