📌 Ringkasan sebelumnya : Lukas 18
Dua perumpamaan yang Yesus ajarkan juga berhubungan dengan hakikat doa. Dalam perumpamaan yang pertama, permasalahan yang diajukan bukannya seorang Kristen harus berteriak kepada Allah agar dibela. Namun permasalahannya adalah ketika Kristen berteriak kepada Allah dan Ia tidak menjawab dan tidak bertindak apa-apa, maka hatinya tergoda untuk memutuskan, tidak perlu meminta kepada Allah karena Ia tidak memperhatikan. Namun perintah Kristus sangat jelas yaitu bahwa Kristen harus berdoa dengan tidak jemu-jemu. Berhenti berdoa berarti kita meragukan kebaikan dan pemeliharaan Allah.
Perumpamaan yang kedua juga menyatakan bahwa doa disadari atau tidak mengungkapkan apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendiri. Hal ini dapat merupakan sesuatu yang salah seperti yang diungkapkan dalam doa seorang Farisi. Lalu, bagaimanakah kita seharusnya berdoa secara benar dan dikenan Tuhan? Kita sudah belajar dalam "Doa Bapa Kami" tentang doa yang benar seperti yang diajarkan oleh Yesus sendiri. Namun ada satu hal yang perlu kita ingat yaitu bahwa dalam doa kita, harus terungkap sikap ketergantungan kita secara tulus kepada Allah, seperti sikap seorang anak kecil yang bergantung total kepada orangtuanya.
Banyak orang menganggap kekayaan sebagai berkat Allah. Kenyataannya, kekayaan dapat juga menjadi penghalang bagi manusia untuk bertemu dengan Allah. Inilah yang terjadi pada si pemimpin yang datang kepada Yesus. Ia sangat kaya. Tetapi kekayaannya baru merupakan satu tahap kesuksesan yang telah diraihnya. Masih ada lagi yang ingin dicapainya yaitu kehidupan kekal setelah kematian. Untuk memastikan bahwa tahap itu dapat dicapainya dengan baik, ia datang kepada Yesus dan menanyakan persyaratannya. Jawaban Yesus tentang hukum Taurat ternyata bukanlah perkara sulit karena ia sudah menaatinya sejak muda.
Namun Yesus tidak berhenti sampai di situ. Yesus menyuruh dia untuk menjual hartanya lalu membagikannya kepada orang miskin, dan setelah itu mengikuti Dia. Kali ini si pemimpin menemui kesulitan! Bagaimana mungkin ia menjual harta yang memberinya kenyamanan, prestise, dan kuasa? Kesedihannya setelah mendengar perkataan Yesus memperlihatkan bahwa kekayaan telah menjadi penghalang besar antara dirinya dengan Allah! Melalui ilustrasi unta dan lubang jarum, Yesus menjelaskan betapa sukarnya bagi seorang kaya untuk memilih Kerajaan Allah dan meninggalkan kekayaannya.
📖 Pengantar Lukas 19
Pemungut cukai adalah orang Yahudi yang bekerja pada pemerintah Roma. Oleh karena itu mereka dianggap sebagai pengkhianat oleh orang-orang sebangsanya. Zakheus adalah salah satu dari mereka. Tidak heran bila ia termasuk orang yang ditolak oleh kebanyakan orang. Namun, bagaimana sikap Yesus terhadap Zakheus ketika ia ingin melihat Yesus?