Setiap kita pernah mengalami kekecewaan, mungkin kita kena PHK, diperlakukan tidak adil, patah hati, mengalami kesulitan finansial, mengalami masalah kesehatan, mengalami dukacita ditinggal orang yang terkasih. Ketika mengalami kekecewaan, apa reaksi kita?
Reaksi yang biasanya manusia keluarkan pada saat mengalami kekecewaan antara lain menurunkan harapan (amarah kedalam), atau ambisi (amarah keluar).
Pada saat kecewa sebagian orang akan mencoba untuk menghindar dengan menjadi orang yang kurang berprestasi sebab tidak lagi mengambil resiko, strategi mereka adalah tidak mempunyai ekspektasi apa-apa, sehingga menjadi pribadi yang sangat konservatif dan mempunyai hidup biasa-biasa saja. Sebagian lain menjadi orang yang terlalu berani mengambil resiko, mengambil keputusan-keputusan yang seharusnya tidak perlu, mengangkat tinggi ekspektasi mereka sehingga harus mengorbankan segalanya untuk menebus kekecewaan di masa lalu. Sebagian lagi yang lainnya dengan cara menyalahkan diri sendiri, merasa malu karena gagal memenuhi ekspektasi sehingga memiliki gambar diri yang buruk dan menyalurkan amarah kedalam yang menyebabkan depresi. Sebagian lagi ada yang menyalurkan amarah dari kekecewaan ini keluar dan menjadi pribadi yang temperamental terhadap orang lain yang tidak sesuai dengan ekspektasinya, menjadi pribadi yang selalu membawa kepahitan, ingin membalas dan berbagai sikap negatif lainnya.
Apa kata firman Tuhan mengenai kekecewaan?
Amsal 17 : 22
"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."
Bagaimana kita menghadapi kekecewaan? Apakah semangat kita menjadi patah? Hidup menjadi tanpa arah?
Ada sebuah pola yang selalu berulangi di Alkitab, dimana biasanya Tuhan memberikan janji, visi, panggilan, lalu sepertinya yang dijanjikan tidak terjadi, sepertinya mereka dikecewakan, diberikan pengharapan, lalu tidak terjadi. Tuhan berjanji akan memberikan Abraham seorang anak, namun harus menunggu 25 tahun. Yusuf yang dijual, difitnah kemudian dipenjarakan dan dilupakan sebelum janji-Nya dipenuhi.
Sore ini kita akan belajar dari seorang Daud, yang mengalami kekecewaan namun berkemenangan.
1 Samuel 22 : 1 – 2
Lalu Daud pergi dari sana dan melarikan diri ke gua Adulam, ketika saudara-saudaranya dan seluruh keluarganya mendengar hal itu, pergilah mereka ke sana mendapatkan dia. Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka. Bersama-sama dengan dia ada kira-kira empat ratus orang.
Tuhan ijinkan Daud untuk mengalami yang namanya kekecewaan, dari seorang yang sukses menjadi buronan raja, dia harus melarikan diri, bahkan dia harus bersembunyi di sebuah gua yang bernama Adulam. Adulam artinya retreat/mundur/bersembunyi dan juga tempat berlindung.
Kadang Tuhan juga mengijinkan kita menghadapi kekecewaan, perasaan sedih saat impian, kehendak, harapan kita seakan-akan tertunda bahkan tidak terjadi, sedang tiarap, sedang sembunyi, sedang terluka, seakan-akan ada dalam gua kekecewaan, tidak dapat melihat harapan atau jawaban atas permasalahan.
Apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi kekecewaan?
1. Tetap produktif
Daud tidak menjadi pasif, tidak juga membiarkan hatinya pahit, cemberut, patah semangat, tetapi dia produktif, bertindak, memperhatikan orang lain, melakukan rencana, mengatur sehingga dikatakan dia memimpin 400 orang.
1 Petrus 4 : 19
"Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia."
Tetap produktif artinya doing the next right thing (lakukan hal yang benar), doing the next thing right (lakukan dengan benar).
2. Tetap mencari kehendak Tuhan
1 Samuel 22 : 3
"Dari sana Daud pegi ke Mizpa di Moab dan berkata kepada raja negeri Moab: "Izinkanlah ayahku dan ibuku tinggal padamu, sampai aku tahu, apa yang dilakukan Allah kepadaku."
Daud mencari kehendak Allah di tengah-tengah menghadapi kekecewaan. Daud meletakkan kesibukannya dan fokus mencari kehendak Tuhan. Pada saat kita mengalami kekecewaan, carilah kehendak Tuhan, jangan pasif dan jangan menyerah. Ingatlah kebaikan-kebaikan Tuhan di masa lalu, Tuhan menolong kita di masa lalu maka Dia juga akan menolong kita di masa sekarang!
3. Tetap mentaati Firman Allah
1 Samuel 22 : 5
"Tetapi Gad, nabi itu, berkata kepada Daud: "Janganlah tinggal di kubu gunung itu, pergilah dan pulanglah ke tanah Yehuda." Lalu pergilah Daud dan masuk ke hutan Keret. "
Daud selalu cepat mentaati perintah Tuhan walaupun terkadang pesan yang disampaikan oleh nabi itu, sesuatu hal yang tidak masuk akal, tetapi Daud tetap mentaati firman Tuhan. Tidak heran jika dikatakan Daud adalah a man after god's own heart (seorang yang terus menerus mencari hati Tuhan).
Kalau Daud kecewa dan lari masuk ke gua, Kristus harus mati dan diletakan di gua, namun tidak untuk selamanya, pada hari ketiga Dia bangkit dan mengalahkan maut, memberikan kita bukan pengharapan semu, bukan pengharapan jangka pendek namun pengharapan kekal! Kita mempunyai starting point yang berbeda dengan orang dunia, Tuhan kita telah menebus kekecewaan kita, Dia adalah Tuhan yang dapat menjadi tumpuan harapan kita yang sejati, Dia mempunyai rencana indah bagi kita semua. Kita boleh mengalami kekecewaan di dunia ini, namun ketahuilah suatu saat nanti kita akan bersama Dia di dalam sukacita yang kekal. Yesus mati agar kita menang melawan kekecewaan. Di dalam Kristus selalu ada pengharapan dan masa depan kita ada di tangan-Nya. Tuhan mengasihi kita. Amin…
Tuhan Yesus Memberkati