Keadaan dunia akhir-akhir ini makin tidak jelas, dan tidak keruan. Banyak negara sedang dalam keadaan gawat darurat. Selain itu, banyak orang yang mungkin bingung. Namun, firman Tuhan telah mengingatkan semua itu.
1 Petrus 4:7
Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.
Di masa-masa seperti ini, kembalilah pada “konstitusi” Kerajaan Allah, yaitu Sabat, dengan kata lain berhenti, beristirahat, berada di hadirat Tuhan. Bukan terpaksa berhenti karena rasa capek atuapun bangkrut, melainkan karena tahu waktunya untuk berhenti, beristirahat.
Sabat adalah salah satu bentuk untuk melawan pola dunia yang tamak, walau bukan berarti kita tidak menjadi rajin bekerja. Dan kita bekerja bukan untuk memperoleh Sabat, melainkan dari Sabatlah kita mempeoleh kesempatan untuk bekerja dan melayani.
Sabat adalah irama atau ritme kehidupan agar sesuai ritme, iramanya Tuhan, berbeda dengan irama dunia yang serba terburu-buru, tergesa-gesa, yang mengukur sukses dari banyaknya pujian maupun perhatian dari orang lain saja, sehingga menghalalkan segala cara. Namun, kita diminta, sebagai anak-anak Tuhan, untuk kembali menurut caranya Tuhan saja.
Dalam ilmu pertanian pun salah satu cara menyuburkan tanah ialah “diistirahatkan”, sebab jika tidak, maka tidak akan subur. Demikian pula, dalam ilmu atletik, pasti menghindari overtraining supaya otot dapat kembali pulih, dan bertanding dengan maksimal saat pertandingan.
Sayangnya, Sabat sering kali dipraktikkan menurut unsur-unsur atau tradisi keagamaan, seperti umat Yahudi mungkin sampai saat ini yang masih memegang tradisi-tradisi tertentu.
Keluaran 31:12-14
Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: ”Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah Tuhan, yang menguduskan kamu. Haruslah kamu pelihara hari Sabat, sebab itulah hari kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat itu, pastilah ia dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya.”
Sebagai umat Tuhan, kita mestinya hidup dalam perjanjian Tuhan, namun cara hidup kita juga seharusnya sesuai perjanjian. Jangan mengklaim janji-janji-Nya, sedangkan cara hidup kita tidak sesuai perjanjian. Karena itu, jangan hidup sesuai cara hidup dunia, sebab pasti akan hancur pada akhirnya.
Karena itulah, kita dipisahkan oleh Tuhan dari dunia, kita dikuduskan (“Kadosh”, “Hagios”), artinya “free from the world” (terbebas dari dunia). “Habitat” kita yang sejati ialah di dalam hadirat-Nya, ibarat habitat ikan seharusnya di dalam air, dan habitat utama seekor burung ialah di udara, dan apabila tidak hidup di habitatnya maka akan mati, demikianlah pula apabila kita keluar dari hadirat-Nya, di dalam Sabat Tuhan, kita akan mati, hancur, binasa pada akhirnya.
Sabat muncul sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Dan setelah Allah menggenapi penciptaan dalam enam hari, Ia menguduskan hari ketujuh sebagai Sabat. Gema Sabat masih terdengar sampai hari ini bagi kita. Artinya, Sabat masih terbuka sampai hari ini.
Kejadian 2:1-2
Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.
Tuhan telah menyelesaikan apa yang diselesaikan-Nya. Tuhan sengaja berhenti (Sabat) bukan karena merasa capek ataupun tertidur, melainkan semuanya sudah diselesaikan-Nya secara sempurna.
Kalau kita tahu identitas kita di dalam Tuhan, dan prinsip Sabat ini, maka cara hidup kita akan berbeda daripada orang-orang dunia. Tidak perlu terus-menerus panik, tamak, sikut sana, sikut sini, dan tidak membangun hidup di atas dasar yang salah seperti pamer harta, mau menjadi viral dan populer.
Boleh-boleh saja punya fasilitas, gelar, posisi, maupun jabatan, namun jangan menempatkan identitas kita di dalamnya.
Sebab hati Allah Bapa ada pada anak-anak-Nya, yaitu kita; jika bapa-bapa di dunia saja menyediakan, mempersiapkan, dan menginginkan segala sesuatu yang baik untuk anak-anak mereka, apalagi Bapa kita di surga!
Sekali lagi diingatkan, identitas kita adalah anak-anak Bapa, tinggallah di dalam Sabat, hadirat-Nya, jangan lagi sikut sana, sikut sini, sikat sana, sikat sini, iri hati, panik terus, selalu gelisah, pemarah, dan jahat. Sebab, semua yang tidak tenang itu tidak akan hidup secara efisien.
Jadi, tahukah identitas kita di dalam Tuhan? Tahukah bahwa identitas kita di dalam Yesus Kristus, Tuhan?
Markus 2:27-28
Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat."
Dalam Perjanjian Baru, Sabat adalah undangan untuk masuk dalam hadirat Tuhan, di “Eden”, di mana bukan ritual-ritual keagamaan ataupun aturan-aturan agamawi, melainkan ada relasi dan hubungan dengan Tuhan. Hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat.
Yohanes 14:30
Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku.
Matius 11:28-30
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.
Dalam Sabat, ada kelegaan, ketenangan, ringan, dan enak; yang semuanya itu tidak bisa dibeli dengan materi, melainkan hanya ada serta dapat kita peroleh dari Tuhan Yesus.
Ibrani 4:9
Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.
Mazmur 46:11
Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!
Berhentilah mencoba menjadi Tuhan. Dia lebih tinggi daripada segala sesuatu dalam kehidupan ini. Tinggallah di dalam Sabat, di hadirat Tuhan.
Hadirat-Mu yang membawaku
Terima semua janji-Mu
Membuat hidupku menjadi indah
Hadirat-Mu yang menguatkan
Aku di dalam pengharapan
Yesus untuk selamanya
Hiduplah dalamku
Tuhan Yesus Memberkati