Kita mungkin sering kali berpikir, bahwa lemah lembut itu berarti tidak berdaya, lemah, dan tidak bisa berbuat banyak. Tetapi, bagaimana dengan kata firman Tuhan ? Tuhan berjanji akan memberkati orang-orang yang lemah lembut, dan memberikan bumi ini kepada mereka. Sekalipun terdengar mustahil, tetapi Yesus mengatakan, bumi ini akan diberikan kepada mereka yang lemah lembut.
Matius 5 : 5
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Dunia mengajarkan yang berbeda. Padahal, sesungguhnya orang-orang yang arogan dan kasar adalah pribadi yang lemah, serta sombong. Padahal, lemah lembut adalah kekuatan ataupun kemampuan di bawah penguasaan diri. Dengan kata lain, orang yang lemah lembut tidak dikuasai oleh emosi, tidak moody atau mudah berubah-ubah perasaan.
Orang yang lemah-lembut itu bisa saja punya kuasa, kemampuan, kekayaan, otoritas, ataupun kekuatan. Tetapi, tidak menggunakannya untuk memperluas ataupun hawa nafsu dan emosi, melainkan menundukkan semua itu di bawah kendali Tuhan. Nah, apa saja berkat dari menjadi orang yang lemah lembut :
• Orang yang lemah lembut itu bisa meredakan konflik atau perselisihan.
Sering kali kita mudah terpengaruh atau terpancing. Padahal, pada waktu saling beradu emosi, pasti yang terjadi adalah keributan. Tetapi, firman Tuhan mengajarkan kita untuk menjawab dengan penuh kelemahlembutan. Bagaimana caranya? Dengan merendahkan nada bicara kita. Dengan demikian, di situlah Tuhan bisa bekerja dan menjamah mereka. Karena kalau kita membalas memarahi, maka kita tidak berjalan sesuai yang firman Tuhan katakan. Sebab, justru Tuhan ingin kita menghadapi dengan penuh kelemahlembutan, meski sulit melakukannya.
Amsal 15 : 1
Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.
Pengkhotbah 10 : 4
Jika amarah penguasa menimpa engkau, janganlah meninggalkan tempatmu, karena kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar.
• Orang yang lemah lembut itu meredam kritik.
Banyak orang yang bisa saja mengkritik, menggosipkan ataupun membicarakan kita. Tetapi, firman Tuhan mengingatkan, jangan sampai ikut-ikutan terpancing segala sesuatu yang mereka lakukan. Pada waktu kita menghadapi orang-orang yang berusaha menjatuhkan, dan berbicara sesuatu yang tidak benar tentang kita, ingat baik-baik, hadapi bukan dengan amarah, melainkan dengan penuh lemah lembut.
Kita memang tidak bisa paksa semua orang menyukai kita, dan mungkin ada saja orang-orang yang yang mencari-cari kesalahan kita. Tetapi, jagalah hidup kita supaya tetap punya integritas. Pada waktu orang-orang mencari-cari kesalahan, kita harus berfokus pada firman Tuhan, dan melakukannya. Kita memang tidak sempurna, masih bisa jatuh dan berbuat salah, tetapi pada waktu itu, cepat-cepatlah bertobat dan minta ampun kepada Tuhan, supaya Ia memulihkan kita kembali.
Kita ini berbeda daripada orang-orang dunia. Tundukkan segala emosi kita di bawah firman Tuhan. Dan pada waktu kita menghadapi dengan penuh kesabaran, seperti Tuhan Yesus, di situlah orang-orang akan melihat ada sesuatu yang berbeda dari kita yang berjalan sesuai kebenaran firman Tuhan, dan bukannya emosi yang menguasai.
1 Korintus 4 : 13
Kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.
Titus 2:8
Sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.
• Orang yang lemah lembut itu membawa kasih.
Terutama dalam pernikahan, lemah lembut itu dibutuhkan untuk menjadikannya lebih baik, sebab pernikahan terdiri dari dua pribadi yang tidak sempurna. Inilah kenyataannya, dua pribadi yang tidak sempurna berusaha menjadi satu, dan berharap pernikahan mereka akan sempurna, maka pasti akan kecewa. Namun, sewaktu sadar bahwa kita pribadi yang tidak sempurna, pasangan kita juga tidak sempurna, tetapi Allah kita adalah Allah yang sempurna, serta jika kita mengundang Yesus masuk dalam rumah tangga, serta keluarga, maka Dialah yang akan menyempurnakan segala sesuatunya.
Belajarlah untuk saling menerima, mengampuni, dan mengasihi. Berlomba-lombalah terus melakukannya sampai akhir hidup kita. Dengan begitu, Tuhan sanggup memulihkan dan memimpin kita berjalan dalam rencana-Nya yang indah.
Kolose 3 : 19
Hai suami-suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
Efesus 6 : 4
Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
Mendidik anak juga perlu kelemahlembutan. Jangan sampai membuat standar yang terlalu tinggi sehingga anak-anak kita tidak bisa mencapainya. Jangan terlalu meninggikan nada suara waktu kita menasihati ataupun menegur mereka. Jika terjadi sesuatu dalam rumah tangga, antara orangtua dan anak, di situlah kita sama-sama belajar. Ada waktunya anak minta maaf kepada orangtua, tetapi ada juga waktunya orangtua yang meminta maaf terhadap anak. Saat kelemahlembutan terjadi dalam keluarga, maka anak-anak akan merasakan kasih. Seperti halnya Bapa di surga mengasihi kita, begitu juga kita mengasihi anak-anak kita. Kita ini punya kelemahan dan keterbatasan. Itu sebabnya, kita perlu Tuhan untuk membantu kita supaya bisa lemah lembut mendidik anak-anak kita, membawa mereka takut akan Tuhan.
Nah, kalau kita perhatikan, dalam firman Tuhan tersebut dikatakan: yang pertama, hai suami-suami; yang kedua, kamu bapa-bapa. Nah, suka ataupun tidak suka, inilah tugas seorang laki-laki atau pria sebagai suami, dan bapa, bahwa kita perlu Tuhan untuk memimpin kehidupan kita. Karena tanpa Tuhan, kita tidak mungkin maksimal menjadi suami ataupun bapa. Namun, saat kita punya hubungan dengan Tuhan, kita belajar bagaimana Tuhan mengampuni, menerima, serta mengasihi kita. Demikian juga kita mempraktikkan itu semua melalui urumah tangga kita, sehingga Tuhan bisa ikut campur di dalam keluarga kita.
• Orang yang lemah lembut akan dihormati.
Rehabeam adalah cucunya Raja Daud, dan anak dari Raja Salomo. Setelah Salomo meninggal, Rehabeamlah yang meneruskan kerajaannya. Namun, sebagai raja muda yang tanpa pengalaman, ia tidak mau memperhatikan nasihat yang baik dari para tua-tua penasihat raja, dan malah hanya memperhatikan dari para muda-muda yang menganjurkan sebaliknya.
Rehabeam memperlihatkan otoritasnya di hadapan rakyat bukan dengan kasih, ataupun kelemahlembutan, melainkan kekerasan, kekuasaan, dan kesombongan. Sehingga, terjadi pemberontakan di mana-mana, bahkan membuat Kerajaan Israel terpecah menjadi dua: 10 suku masuk dalam Kerajaan Israel, dan 2 suku lainnya masuk di Kerajaan Yehuda.
2 Tawarikh 10 : 7
Mereka berkata kepadanya: "Jika engkau mau berlaku ramah terhadap rakyat itu, mau menyenangkan mereka dan mengatakan kata-kata yang baik kepada mereka, maka mereka menjadi hamba-hambamu sepanjang waktu."
Apa yang bisa kita pelajari? Ini mengingatkan kita, bahwa siapa pun kita, hari ini ditempatkan di posisi sebagai pemimpin, entah dalam rumah tangga, pekerjaan, pelayanan, komunitas di masyarakat, ingat baik-baik bahwa itu semua karena kasih karunia Tuhan. Artinya, Tuhanlah yang mempercayakan kita sampai hari ini menjadi pemimpin. Nah, pergunakanlah kesempatan itu untuk memimpin dengan penuh kasih dan kelemahlembutan.
Ada waktunya kita bisa saja emosi, ataupun marah, tetapi kita harus belajar menundukkan segala sesuatu di bawah kehendak Tuhan, sehingga bukan kedagingan kita yang tampak, melainkan biarlah Roh Kudus yang lemah lembut yang nampak dan memimpin kita dalam rencana-Nya Tuhan dahsyat di dalam hidup kita.
• Orang yang lemah lembut akan menjadi saksi Kristus.
Banyak orang berlaku kasar, emosinal, marah-marah, dan memperlakukan segala sesuatu sesuai keinginannya sendiri. Tetapi, kita belajar saat kita lemah lembut, orang-orang akan bertanya-tanya dan melihat sesuatu yang berbeda dari kehidupan kita, sebab kita ditundukkan oleh kasih Kristus, serta itu yang bisa membawa mereka untuk datang dan percaya kepada Tuhan Yesus. Praktikkanlah kasih Kristus itu ke orang-orang sekeliling kita, sehingga hidup kita menjadi berkat, sampai akhirnya lemah lembut itu menjadi gaya hidup kita.
Titus 3 : 1 - 2
Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.
Bagaimana cara mempraktikkan lemah lembut? Yaitu, pada waktu kita dilayani oleh orang lain, mungkin bawahan, pembantu, atau siapa pun orang-orang yang di bawah kita. Belajarlah bukan untuk menuntut, tetapi mengerti mereka. Supaya mereka akan melihat Kristus. Jangan sampai hidup kita malah menjadi batu sandungan, sehingga mereka tidak mau datang kepada Tuhan karena melihat kehidupan kita.
Selain itu, terhadap orang-orang yang mungkin tidak sepaham atau tidak setuju dengan kita, sehingga kita menjadi pelaku-pelaku firman lewat respons kita, dan mereka merasakan kasih Kristus melalui hidup kita. Kemudian juga, kepada orang-orang yang mungkin mengecewakan atau bersalah pada kita. Janganlah hakimi mereka, melainkan dengan lembah lembut menghadapi mereka. Karena Tuhan juga sudah mengampuni kita dengan penuh kelemahlembutan.
• Kelemahlembutan adalah bagian dari buah Roh.
Artinya, lemah lembut itu tidak bisa dimanipulasi, atau dipalsukan. Iblis tidak bisa melakukan kelemahlembutan. Dunia menertawakan dan memandang rendah kelemahlembutan. Dan kalau kita sekadar berusaha lemah lembut dengan kekuatan sendiri, pasti kita akan lelah. Sebab, bukan kemampuan kita, melainkan kelemahlembutan itu hanya bisa dihasilkan pada waktu kita punya hubungan dengan Roh kudus. Itu sebabnya dikatakan bagian dari buah Roh.
Waktu mengizinkan Roh Kudus menguasai hidup kita, mengatur perkataan, perbuatan, rencana-rencana, bahkan kehidupan kita, maka buah Roh ini, kelemahlembutan, penguasaan diri pasti akan tampak dalam kehidupan kita. Jadi bukan karena kita yang bisa-bisanya aja gitu ya saudara ya. Kita berusaha untuk mempraktekkannya tidak bisa saudara dan buah Roh ini adalah kalau saudara lihat ini adalah karakter Kristus. Makanya tidak bisa dipalsukan oleh dunia.
Galatia 5 : 22 - 23
Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
Tuhan Yesus juga adalah Pribadi yang lemah lembut. Dia punya otoritas dan kuasa, serta sanggup saja melakukan segala sesuatu, namun Dia menundukkan semuanya itu di bawah kehendak Bapa surgawi, dan melakukan apa yang Bapa mau, serta menyenangkan hati Bapa.
Nah hari ini, maukah Saudara melakukan firman Tuhan untuk menjadi pribadi-pribadi yang lemah lembut? Supaya hari demi hari, kita semakin disempurnakan menjadi serupa dan segambar dengan Tuhan Yesus.
Tuhan Yesus Memberkati