GBI PRJ (CK7)
GBI PRJ (CK7)Praise Revival for Jesus
Giving

MENYEMBAH DI DALAM KERAGUAN

25 Oktober 2026, Pk. 18:00 WIB

"I don't run with my legs. I run with my heart and mind." (Eliud Kipchoge)

Atau, aku tidak berlari sekadar dengan kakiku, melainkan aku berlari juga dengan hati serta pikiranku, ujar pelari maraton yang luar biasa dan pernah berhasil lari maraton di bawah dua jam. Menariknya, hal yang kontradiktif, seorang atlet lari tetapi tidak hanya berlari menggunakan kaki, tetapi juga hati dan pikirannya. Ternyata, untuk memenangkan sebuah pertandingan, hati, pikiran, dan seluruh keberadaan kita semestinya berada di tempat yang sama, tertuju pada satu tujuan yang sama. 

Bagaimana dengan kehidupan kita mengiring Yesus?

Sering kali berjalan bersama Yesus melewati segala proses seakan-akan hati dan pikiran kita berada di tempat yang berbeda. Kita memiliki iman percaya kepada Tuhan, tetapi mata jasmani kita ketika melihat permasalahan sering kali membuat kita ragu-ragu: Apakah benar Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang luar biasa? Apakah benar Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang penuh kuasa? Jadi, seakan-akan hidup kita berdiri di dua perahu yang berbeda.  

Firman Tuhan mengajarkan, keadaan ini bukan berarti kita kehilangan iman, melainkan sebuah kondisi yang dalam Alkitab disebut “distazo”, yaitu hati yang seolah berdiri di dua tempat: tetap percaya kepada Tuhan, tetapi pada saat yang sama masih menyimpan keraguan. 

Melalui kehidupan Petrus, kita melihat, Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang sedang bergumul dengan keraguan. Justru, di tengah kondisi seperti itulah, kasih dan kesetiaan Tuhan makin nyata. Petrus, yang kemudian dikenal sebagai rasul yang berani, ternyata tidak langsung memiliki iman yang kokoh, ia juga pernah mengalami kebimbangan dan ketakutan. Namun, Tuhan terus membentuk hidupnya sampai akhirnya menjadi seorang yang dipakai secara luar biasa. 

Kisah Para Rasul 4:13
Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes m  dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa n  yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.

Kalau kita pelajari kehidupan Petrus, ternyata Petrus bukan berasal dari seorang yang langsung memiliki keberanian dan keyakinan dalam menjalani panggilannya. Kita justru melihat sesuatu yang bertolak belakang. Petrus pernah memiliki keraguan dalam hatinya. “Distazo”. Seperti berdiri di dua tempat, ia waktu itu masih belum sepenuhnya yakin dengan Tuhan yang ia sembah. Karena itu, hari ini kita mau sama-sama belajar lewat kehidupannya. Bagaimana dari seorang yang memiliki keraguan, seorang peragu, tetapi akhirnya memiliki keberanian yang luar biasa dalam menjalani panggilan hidupnya.

• Tuhan yang Tetap Memilih Kita di Tengah Keraguan Kita
Cerita pengalaman panggilan Simon Petrus dalam Lukas 5:5-10 memperlihatkan, setelah semalaman tidak mendapatkan ikan, Yesus menyuruh Simon kembali menebarkan jala. Walau awalnya ragu, Simon tetap memilih taat. Ketaatan itu menghasilkan mukjizat yang besar, sehingga ia menyadari siapa Yesus sebenarnya. Ia berubah dari memanggil Yesus sebagai "Guru" menjadi "Tuhan", karena ia mengalami sendiri kuasa-Nya. Lebih daripada sekadar memberikan mukjizat, Yesus juga memberikan tujuan hidup yang baru, yaitu menjadi penjala manusia. 

Sering kali, mungkin kita merasa tidak layak dipakai oleh Tuhan. Merasa hidup kita penuh kegagalan, dosa, dan kelemahan, sehingga bertanya-tanya apakah Tuhan masih mau menerima kita. Namun, hidup Simon Petrus menunjukkan, sebelum ia merasa dirinya layak, bahkan sebelum ia mengakui dosanya, Yesus sudah terlebih dahulu memilih dan memberikan panggilan kepadanya. Ini menunjukkan, bahwa kasih Tuhan tidak didasarkan pada kelayakan manusia, melainkan pada kasih karunia-Nya. Di tengah keraguan sekalipun, Tuhan tetap menerima kita apa adanya, dan memberikan tujuan hidup yang baru. 

• Tuhan yang Tetap Menolong di Tengah Keraguan Kita
Dalam peristiwa Petrus berjalan di atas air (Matius 14:28-31), sering kali perhatian kita mungkin cuma tertuju pada saat Petrus tenggelam. Padahal, Petrus ialah satu-satunya murid yang berani keluar dari perahu, dan melangkah menuju Yesus. Petrus memang mulai tenggelam ketika perhatiannya beralih pada badai, tetapi yang lebih penting adalah respons Yesus. Tanpa menunda, Yesus segera mengulurkan tangan-Nya, dan menolong Petrus. Tuhan tidak datang untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan. 

Perjalanan bersama Tuhan bukan berarti hidup bebas dari badai. Masalah keluarga, pekerjaan, kesehatan, keuangan, maupun berbagai pergumulan lainnya tetap dapat terjadi. Namun, firman Tuhan mengingatkan, bahwa kita tidak diminta menghadapi semua itu dengan kekuatan sendiri. Ketika hati mulai bimbang dan muncul “distazo”, Tuhan tetap hadir sebagai Penolong yang setia. Ia tidak meninggalkan orang yang datang kepada-Nya dengan jujur, melainkan memberikan pertolongan tepat pada waktunya. 

Sebagai manusia, kita harus sadar kita tidak akan pernah bisa berjalan di tengah badai tanpa tangan Tuhan.

• Tuhan yang Tetap Mempercayai Kita di Tengah Keraguan Kita 
Setelah kebangkitan-Nya, ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid di Galilea, Alkitab mencatat bahwa mereka menyembah-Nya, tetapi masih ada yang ragu-ragu. 

Matius 28:16-17
Perintah untuk memberitakan Injil -- Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.

Menariknya, justru kepada orang-orang yang masih memiliki keraguan itulah, Yesus mempercayakan Amanat Agung. Ia memerintahkan mereka pergi menjadikan semua bangsa murid-Nya. Ini menunjukkan, Tuhan tidak menunggu manusia menjadi sempurna sebelum dipakai oleh-Nya. Sebaliknya, panggilan Tuhan merupakan bukti bahwa Ia terlebih dahulu mempercayai serta begitu menyanyangi kita.

Justru, di sini, Yesus mau menunjukkan, di tengah keraguan murid-murid-Nya, Yesus tetap memberikan dan mempercayakan sesuatu yang terbaik untuk kehidupan mereka, Saudara, dan saya.

Sering kali, kita mungkin masih menganggap panggilan Tuhan sebagai beban atau kewajiban. Namun, sebenarnya, setiap panggilan merupakan ungkapan kasih Tuhan kepada kita. Ketika Tuhan mempercayakan sebuah pelayanan atau tanggung jawab, itu berarti Ia melihat potensi yang telah Ia tanamkan dalam diri serta hidup kita. Walaupun mungkin masih ada keraguan, Dia tetap menyertai, dan memampukan setiap orang yang bersedia berjalan bersama-Nya. 

Pada akhirnya, keberanian Petrus bukan muncul karena ia menjadi manusia yang sempurna atau tidak pernah lagi memiliki pergumulan. Keberaniannya lahir karena ia mengenal Tuhan yang selalu setia. Petrus belajar berhenti “berdiri di dua tempat”. Bukan karena ia berhasil meyakinkan dirinya sendiri, tetapi karena sadar ia punya Tuhan yang terlebih dahulu menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang setia. Bahkan di tengah keraguan yang dimiliki serta dialami oleh Petrus, ia datang ke Tuhan apa adanya, berdoa apa adanya kepada-Nya, dan ia tetap memilih untuk terus dekat kepada-Nya.

Penyembahan di tengah keraguan bukanlah penyembahan yang gagal, melainkan penyembahan yang tulus. Tuhan tidak menunggu hati yang sudah memiliki semua jawaban, tetapi hati yang tetap mau datang kepada-Nya sekalipun masih membawa banyak pertanyaan. 

Kiranya, firman ini menguatkan setiap kita sebagai orang percaya untuk mau tetap melangkah dalam iman. Mungkin masih ada keraguan, mungkin badai kehidupan belum berhenti, tetapi Tuhan tetap menerima, menolong, dan mempercayai setiap kita anak-anak-Nya. Selama kita terus datang dan dekat kepada-Nya, Ia akan memimpin langkah demi langkah, menyertai, dan menyatakan kesetiaan-Nya dalam setiap musim kehidupan.

Tuhan Yesus Memberkati

Mobile Apps

Semua kebutuhan ibadah GBI PRJ (CK7) dalam satu aplikasi — gratis untuk iOS dan Android.

  • Rangkuman KhotbahBaca ulang firman setiap ibadah
  • Renungan HarianDoa Fajar & renungan setiap pagi
  • Jadwal IbadahSemua cabang CK7 & event
  • PersembahanMemberi dengan mudah & aman
Aplikasi GBI PRJ (CK7) — Beranda Aplikasi GBI PRJ (CK7) — Khotbah Aplikasi GBI PRJ (CK7) — Alkitab Aplikasi GBI PRJ (CK7) — COOL