GBI PRJ (CK7)
GBI PRJ (CK7)Praise Revival for Jesus
Giving

BAGAIMANA BERDAMAI DENGAN ORANG YANG SULIT

Pdp. Tamara Geraldine Tuanakotta, S.Sos., M.Th., CBC · Minggu, 01 Maret 2026

Ibadah Raya 5 (Onsite)
Minggu, 01 Maret 2026
Pk. 16:30 WIB
Lukas 6:32-36; Roma 12:19

”Kasih yang Tidak Normal”
Kita sering membaca Lukas 6:32-36, di mana Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi musuh. Ayat ini menantang kita karena kasih yang Yesus minta berbeda dari kasih biasa yang kita lihat di dunia.

Ada istilah Kasih Horizontal vs. Kasih Vertikal. Mengasihi orang yang baik kepada kita adalah insting alami. Itu bukanlah kesalehan yang istimewa; kita tidak membutuhkan Kristus untuk melakukan hal itu. Yesus berkata, "Apakah jasamu?" atau dalam bahasa Yunani, "Charis" yang berarti anugerah. Di mana letak anugerahnya jika kita hanya mengasihi orang yang layak? Itu hanyalah sebuah transaksi.

Keunikan Kekristenan justru dimulai di titik di mana alasan manusiawi untuk mengasihi sudah habis.

I. Agape: Anugerah yang "Agak Laen"
Kasih yang diajarkan Yesus adalah Agape, sebuah kasih yang lahir dari anugerah. Ini bukan reaksi transaksional, melainkan identitas. Identitas kita sebagai "anak-anak Allah Yang Mahatinggi" ditunjukkan dengan kemampuan mengasihi orang yang tidak tahu berterima kasih dan orang jahat (ayat 35).

Bagaimana mungkin? Karena di balik sifat manusia yang menyulitkan, tetap ada imago dei (gambar Allah) yang walau rusak, namun tetap berharga. Kita tidak diminta mengasihi perilaku buruknya, tetapi jiwanya. Seperti yang Tuhan lakukan kepada kita, "Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita" (Roma 5:8).

II. Memahami Anatomi "Orang yang Sulit Dikasihi"
Mengapa seseorang bisa begitu sulit dikasihi? Cobalah berempati. Sering kali, orang yang sulit dikasihi adalah orang yang sedang menderita. Ada pepatah: Hurt People, Hurt People. Orang yang terluka cenderung melukai orang lain. Kita perlu belajar melihat melampaui gejala di permukaan, hingga kepada akar masalahnya, yaitu kejatuhan manusia ke dalam dosa.

Allah mengizinkan "orang sulit" ada di sekitar kita bukan untuk menghancurkan kita, melainkan sebagai ujian pengudusan (sanctification) untuk membuat kita semakin serupa dengan Kristus.

III. Mengasihi Bukan Berarti Denial (Menyangkali Luka)
Namun, bagaimana jika orang tersebut sudah menghancurkan hidup saya? Penting untuk dipahami: mengasihi bukan berarti menyangkal rasa sakit atau keadilan.

1.    Serahkan pada Keadilan Allah: 
Mengasihi berarti melepaskan hak kita untuk membalas dendam dan menyerahkan penghakiman kepada Allah, Hakim yang adil. Roma 12:19 berkata, "Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan."

2.    Validasi Luka Kita: 
Kita boleh berduka atas hidup yang hancur. Yesus sendiri menangis di depan kubur Lazarus, meskipun Ia tahu Ia akan membangkitkannya. Kesedihan dan validasi atas luka itu manusiawi dan diperbolehkan.

IV. Kasih Sebagai "Pelepasan" (Aphiemi)
Dalam bahasa Yunani, kata untuk mengampuni adalah "aphiemi" (Matius 6:12, 18:21,27), yang berarti melepaskan, membiarkan pergi, atau membatalkan utang. 

Terus menyimpan kebencian sama saja dengan membiarkan orang tersebut memiliki "kuasa" atas hidup kita. Mengasihi orang yang menghancurkan hidup kita berarti menolak untuk membiarkan kejahatan mereka mengubah kita menjadi pribadi yang penuh kebencian. Inilah proteksi kasih.

V. Melihat dari Perspektif Salib
Dari kayu salib, Yesus berkata, "Mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Dosa sering membuat manusia menjadi buta rohani. Orang yang menghancurkan hidup kita mungkin sangat dikuasai oleh kegelapan, trauma mereka sendiri, atau kejahatan, sehingga mereka seolah kehilangan kemanusiaannya.

Cobalah melihat mereka sebagai "jiwa yang tersesat dan rusak", tanpa membenarkan tindakan mereka. Perspektif ini dapat membantu mengurangi rasa pahit di hati kita.

VI. Aplikasi Praktis
Lalu, bagaimana langkah konkretnya?
1.    Mulai dengan Doa "Tanpa Perasaan": Kita tidak perlu menunggu sampai kita "merasa" sayang kepada mereka. Mulailah berdoa untuk mereka sebagai wujud ketaatan kita kepada Tuhan.
2.    Cari Penolong Profesional: Jika hidup kita terasa "hancur", ini bukan hanya masalah rohani, tetapi juga masalah psikologis yang perlu ditolong secara profesional.
3.    Fokus pada Restorasi: Tuhan adalah ahli membuat "beauty from ashes". Fokuslah pada bagaimana Tuhan membangun kembali hidup Anda, daripada terus terpaku pada bagaimana orang itu menghancurkannya.
4.    Tetapkan Batasan (Boundaries) Jika Perlu: Mengasihi tidak berarti membiarkan diri diinjak-injak. Mengasihi berarti menjaga hati agar tidak membenci, tetapi memiliki hikmat untuk menetapkan batasan yang sehat.
5.    Ubah Perspektif dari "Korban" Menjadi "Saluran Berkat": Sangat sulit untuk tetap membenci seseorang saat kita dengan tulus terus mendoakan berkat bagi mereka (Matius 5:44).
6.    Ingat Kasih Kristus kepada Kita: Mengasihi orang sulit dengan kekuatan sendiri hanya akan membuat kita lelah dan pahit. Kita hanya bisa mengasihi jika kita terus-menerus diisi oleh kasih Kristus.

Berdamai dengan orang yang sulit adalah bukti nyata bahwa iman kita bukan sekadar teori. Saat kita mampu mengasihi mereka yang tidak layak dikasihi, dunia akan melihat pantulan wajah Kristus yang paling murni dalam diri kita. 

Kekristenan tidak sekadar diukur dari bagaimana kita memperlakukan sahabat kita, tetapi juga dari bagaimana kita bersikap di hadapan mereka yang telah melukai kita.

Tuhan Yesus Memberkati

No. Rekening Persembahan CK7

Mobile Apps

Semua kebutuhan ibadah GBI PRJ (CK7) dalam satu aplikasi — gratis untuk iOS dan Android.

  • Rangkuman KhotbahBaca ulang firman setiap ibadah
  • Renungan HarianDoa Fajar & renungan setiap pagi
  • Jadwal IbadahSemua cabang CK7 & event
  • PersembahanMemberi dengan mudah & aman
Aplikasi GBI PRJ (CK7) — Beranda Aplikasi GBI PRJ (CK7) — Khotbah Aplikasi GBI PRJ (CK7) — Alkitab Aplikasi GBI PRJ (CK7) — COOL