Kehidupan iman kadang mengalami pasang surut, seperti halnya Ishak yang beriman, tapi kadang bisa ia dikuasai keraguan juga. Ishak mengalami masa kelaparan seperti yang pernah dialami Abraham, ayahnya. Tetapi, Ishak taat kepada Tuhan untuk menetap di tanah Kanaan, di kota orang Filistin di Gerar. Di sini terlihat bahwa Ishak beriman sehingga ia menaati Tuhan. Iman dan ketaatan mesti berjalan bersama-sama.
“Maka timbullah kelaparan di negeri itu. --Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: ‘Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu’” (Kej. 26:1-2).
Namun ada saat di mana Ishak menunjukkan ketiadaan iman, yaitu ketika ia merasa tidak yakin bahwa Allah dapat menyelamatkan dirinya dari tangan Abimelekh, raja orang Filistin. Di sinilah titik lemah Ishak, yaitu keragu-raguan akan pemeliharaan Tuhan: “Jangan-jangan aku dibunuh oleh penduduk tempat ini karena Ribka” (Kej. 26:7). Tapi puji Tuhan, Ishak diberi kekuatan menjalankan perintah Tuhan dengan jalan melakukan tindakan iman yang luar biasa. Tindakan apa yang Ishak lakukan untuk menggenapi janji Tuhan tentang pemeliharaan? Ishak menabur dan menggali sumur.
“Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya” (Kej. 26:12-13).
Allah memberkati Ishak secara luar biasa sehingga ia mendapat hasil panen seratus kali lipat. Ishak pun menjadi sangat kaya. Nama Ishak sendiri berarti the prosperous man: diberkati meski dalam keadaan apa pun, dengan siapa pun.
“Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, dan yang telah ditutup oleh orang Filistin sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya. Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya. Lalu bertengkarlah para gembala Gerar dengan para gembala Ishak. Kata mereka: ‘Air ini kepunyaan kami.’ Dan Ishak menamai sumur itu Esek, karena mereka bertengkar dengan dia di sana. Kemudian mereka menggali sumur lain, dan mereka bertengkar juga tentang itu. Maka Ishak menamai sumur itu Sitna. Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata: ‘Sekarang TUHAN telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini’” (Kej. 26:18-22). Arti kata Sitna adalah permusuhan. Ishak memilih perdamaian.
“Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: ‘Kami telah mendapat air.’ Lalu dinamainyalah sumur itu Syeba. Sebab itu nama kota itu adalah Bersyeba, sampai sekarang” (Kej. 26:32-33). Arti kata Syeba adalah tujuh, yaitu angka kesempurnaan.
Ketika Ishak menggali sumur-sumur yang menghasilkan air yang berbual-bual, ini merupakan konfirmasi atas penyertaan Tuhan mengenai berkat-berkat yang dilimpahkan kepadanya. Janji Allah kepada kita tentang pemeliharaan & berkat akan terwujud jika kita memiliki iman & bertindak seperti yang Tuhan perintahkan. Menabur & menggali merupakan tindakan iman yang harus kita lakukan untuk pengenapan janji-janji Allah. Kalau Allah sanggup memelihara Ishak dari kelaparan & perlindungan dari ancaman Abimelekh, maka Allah yang sama, yaitu Tuhan Yesus sanggup melakukan kepada kita. Tetap percayalah pada Tuhan Yesus & lakukan firman-Nya, maka kita akan menerima semua berkat yang disediakan untuk kita.
MILIKILAH IMAN & KETAATAN melalui, dan supaya:
• Belajar hidup dari janji-janji Allah
• Punya hubungan pribadi dengan Allah
• Memiliki ketaatan yang bersumber pada iman
• Berusaha menyamai iman & ketaatan Abraham
• Berkat (kekayaan) diberikan sebagai upah kesetiaan
“Tetapi seperti ada tertulis: ‘Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia’” (1 Kor. 2:9).