Jika kita mengasihi Tuhan, maka menjalankan hidup dalam ketaatan mutlak bukanlah suatu beban, melainkan sebuah kesukaan karena itu membuktikan kita mengenal Allah, rela menuruti perintah-Nya, dan melakukan kehendak-Nya. Hal itu mirip sebagaimana kawanan domba mengenali terhadap suara gembalanya. “Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya” (Yoh. 10:4). “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yoh. 10:27). “Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun” (Mzm. 79:13).
Ketaatan mendatangkan berkat, ketidaktaatan mendatangkan kutuk (Ul. 11:8-32). Aturan emas untuk memahami hal-hal rohani bukanlah kepandaian, namun ketaatan (Oswald Chambers). Sebab walau kadang pandai sekali, Anda tidak akan mengerti kehendak Tuhan atau isi hati-Nya, kecuali dengan taat dan tunduk. Ketaatan mutlak adalah ketaatan yang tidak bisa ditawar lagi dan harus.
Di Ibadah Raya I, saya telah berkhotbah tentang Transplantasi Hati yang berbicara tentang Tuhan ingin hati kita tetap sehat, jangan sampai hati kita tidak dapat berfungsi lagi, jadi Dia sendirilah yang akan mendetoksinasi (membuang racun-racun, hal-hal yang tidak berguna) dari hati kita & melakukan transplantasi hati kita yang lama menjadi hati yang baru (Yeh. 36:26-27). Semua ini adalah inisiatif Tuhan untuk hidup kita di tahun 2019 agar memiliki roh & hati yang taat kepada-Nya. Di Ibadah Raya II, saya telah berkhotbah tentang Spiritual Check-up (Mengecek Keadaan Kerohanian Kita) yang perlu untuk kesadaran kita, menyelidiki dan menguji diri sendiri terhadap kerohanian kita seiring memasuki tahun 2019.
Salah satu ujian ketaatan mutlak kita terlihat dari apakah kita mau memberikan persembahan sulung atau tidak. “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya. Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya” (Ams. 3:9-11). Karena di mata harta kita berada, di sanalah hati kita berada.
Jika engkau merindukan penuaian signifikan yang belum pernah engkau alami sebelumnya, maka menaburlah signifikan seperti belum pernah engkau lakukan sebelumnya (Ps. Ir. Yonathan Wiryohadi). “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal. 6:7). “TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu … Juga TUHAN akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu--di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu. TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman” (Ul. 28:8, 11-12).
“TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya” (Ul. 28:13-14).
Terkadang keputusan untuk bertahan bukanlah hal utama yang diperlukan, melainkan keputusan untuk berserahlah yang dapat membuat perbedaan nyata. Jadi berserah dan taat mutlaklah kepada Allah! Cintai dan jalani proses-Nya, terima dan alami progres-Nya, dan jauhi sikap yang bersungut-sungut, protes, atau hati yang keras dan jahat! “Dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kol. 3:10).