Terkadang dalam hidup ini kita harus berhenti dari kesibukan kita. Seringkali kita terburu-buru. Sikap terburu-buru ini justru membuat semuanya terasa lambat, tidak ada yang selesai, bahkan terdapat banyak kesalahan. Hal-hal ini membuat kita kehilangan damai sejahtera. Tetapi, ketika kita masuk dalam perhentian, kita akan memilih mana yang menjadi prioritas dan mana yang harus kita selesaikan.
Mazmur 116 : 7Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab Tuhan telah berbuat baik kepadamu.
Dalam masa tunggu, ada “4 P” yang ingin Tuhan kita lakukan dan perbaiki :
• Poros kita harus benar, harus tertuju kepada Tuhan
• Prioritas, tidak semua kita harus kerjakan sekarang
• Porsi, mengukur porsi kita. tidak semua harus kita ambil, tidak semua harus kita lepaskan, keseimbangan adalah hal yang harus kita ciptakan
• Panggilan hidup, ketika semua sudah kita lakukan, kita akan tahu panggilan hidup kita
Amsal 21 : 5Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan.
Amsal 19 : 2Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.
Masa perhentian atau masa tunggu akan menentukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Hanya ada 2 hal yang bisa kita lakukan pada masa lalu, yaitu disyukuri atau disesali. Masa lalu adalah pembelajaran selama kita hidup. Dan pembelajaran harus dinilai. Mari merenungkan, selama 10 bulan ini perubahan apa yang terjadi dalam hidup kita ? Apakah perubahan ke arah yang lebih baik atau justru ke arah yang buruk ?
Menurut KBBI, arti ‘rapor’ adalah laporan resmi, yaitu buku yang berisi nilai kepandaian dan prestasi belajar murid di sekolah. Rapor berfungsi sebagai alat ukur yang berorientasi terhadap mutu hasil hasil belajar. Hal yang kita takutkan saat menerima rapor adalah jika mendapatkan nilai merah. Sebagai anak Tuhan, seharusnya nilai kita terus naik, dan tidak turun.
Ada 9 mata pelajaran dalam “sekolah kehidupan” sebagai orang Kristen, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Galatia 5 : 22 - 23Tetapi buah Roh ialah : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
Kita harus melihat perkara yang di atas untuk mendapatkan nilai yang baik, karena kita sudah dibangkitkan. Janganlah kita menjadi orang Kristen yang pasif, hanya merasa cukup ketika mendengar firman Tuhan di gereja.
Kolose 3 : 1 - 4Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.
“Taksonomi Bloom” adalah membagi kemampuan tingkat berpikir atau kognitif menjadi 6 tingkat. Firman Tuhan harus disimpan di dalam hati, agar berubah menjadi hikmat. Dari hikmat inilah, kita bisa berpikir dan mengetahui nilai rapor kita apakah sudah baik atau belum.
Amsal 8 : 12Aku, hikmat, tinggal bersama-sama dengan kecerdasan, dan aku mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan.
1. Remembering (Mengingat)
Cara mengingat firman Tuhan dengan baik dan benar adalah dengan merenungkan siang dan malam. Kita bisa merenungkannya dengan nyanyian, yang artinya kita bisa menaikkan pujian.
Mazmur 104 : 34Biarlah renunganku manis kedengaran kepada-Nya ! Aku hendak bersukacita karena Tuhan.
2. Understanding (Memahami)
Kita harus memahami ayat satu per satu. Hidup melekat dengan Tuhan, maka membuat kita memahami isi hati-Nya.
Hosea 14 : 9Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan Tuhan adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ.
3. Applying (Menerapkan)
Berhenti menjadi pendengar, tetapi jadilah pelaku. Ketika kita bangkit menjadi terang, kita jatuh satu kali, maka kita harus bangkit dua kali.
Amsal 14 : 18Orang yang tak berpengalaman mendapat kebodohan, tetapi orang yang bijak bermahkotakan pengetahuan.
4. Analyzing (Menganalisa)
5. Evaluating (Mengevaluasi)
Pada tingkatan 4 dan 5, kita harus menganalisa apa saja yang sudsah kita lakukan, dan mengevaluasi kesalahan mana yang harus kita perbaiki. Di tahap evaluasi, terkadang Tuhan izinkan orang lain yang menilai.
2 Timotius 3 : 16Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
6. Creating (Mengkreasi)
Pada tingkatan ini, kita bisa mengubah diri menjadi pribadi yang baru.
2 Korintus 5 : 17Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru : yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
Tuhan Yesus Memberkati