Negosiasi adalah proses tawar menawar dengan jalan berunding guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak dengan pihak yang lain.
Tujuan negosiasi adalah mencari kesepakatan; menemukan titik temu di antara pihak-pihak yang memiliki kepentingan berbeda, memohon perubahan keputusan; mengajukan alasan atau pertimbangan agar suatu keputusan ditinjau kembali, mencari jalan keluar; menyelesaikan persoalan atau menghindari akibat yang tidak diinginkan, menyampaikan kepentingan dan kebutuhan; mengungkapkan harapan, keberatan, atau permohonan secara terbuka, membangun hubungan; memelihara komunikasi dan menemukan solusi tanpa harus merusak relasi.
Apakah kita bisa bernegosiasi dengan Tuhan? Ya, jika yang dimaksud adalah memohon dengan sungguh-sungguh, mengajukan alasan di hadapan Allah, bersyafaat, atau memohon agar Allah berkenan mengubah tindakan-Nya. Namun, tidak dalam arti memperlakukan Allah seolah-olah Ia harus tunduk pada tawar-menawar manusia.
Alkitab memperlihatkan bahwa hubungan dengan Allah melibatkan doa, ratapan, permohonan, syafaat, pertanyaan, dan bahkan keberanian untuk mengajukan alasan di hadapan-Nya.
Beberapa tokoh Alkitab yang bernegosiasi dengan Tuhan:
- Abraham: negosiasi tentang Sodom
- Musa: negosiasi supaya Israel tidak dibinasakan
- Hizkia : negosiasi perpanjangan umur
- Yesus Kristus: Doa di Taman Getsemani
Apa yang perlu kita ketahui mengenai negosiasi?
1.Negosiasi bukan memaksa tapi permohonan dengan hati yang tulus dan benar.
Kejadian 18 : 22 – 24
Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN. Abraham datang mendekat dan berkata: "Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu?
Melalui doa syafaatnya, Abraham memohon belas kasihan dan mempertanyakan keadilan penghukuman apabila orang benar diperlakukan sama dengan orang fasik. Abraham berani mengajukan alasan, tetapi tetap menyadari kedudukannya di hadapan Allah: "aku ini debu dan abu" (ayat 27). Ia tidak memaksa Allah, melainkan bersandar pada keadilan Hakim seluruh bumi.
2.Mengingatkan akan janji Tuhan sesuai dengan Firman-Nya.
Keluaran 32 : 13 – 14
Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya." Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.
Ketika Israel berdosa dengan menyembah anak lembu emas, Musa memohon agar murka Allah tidak membinasakan umat itu. Ia mengingatkan Allah akan karya pembebasan-Nya, nama-Nya di hadapan bangsa-bangsa, serta janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Israel.
Tujuan negosiasi atau doa syafaat Musa adalah memohon pengampunan, mempertahankan umat perjanjian, dan memohon agar penghukuman tidak menjadi akhir perjalanan mereka.
Syafaat yang dewasa tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi, tetapi juga keselamatan orang lain dan kesetiaan Allah terhadap janji-Nya.
Keluaran 32:14 menyatakan bahwa Allah mengurungkan malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat itu.
3.Tuhan berdaulat peuh atas keputusan-Nya.
Matius 26 : 39
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Tuhan Yesus berdoa agar cawan penderitaan itu berlalu dari-Nya, tetapi segera menyatakan penyerahan diri kepada kehendak Bapa.
Yesus mengungkapkan pergumulan yang nyata menghadapi penderitaan dan menyatakan ketaatan kepada kehendak Bapa. Ini bukan tawar-menawar untuk memaksa Bapa. Justru Yesus memperlihatkan bahwa permohonan yang sungguh-sungguh dapat disertai penyerahan diri sepenuhnya. Doa ini menjadi teladan penting bagi orang percaya ketika kehendak pribadi berhadapan dengan jalan yang diizinkan Allah.
Negosiasi dengan Tuhan bukan untuk mengubah pikiran dan kedaulatan-Nya, tapi memohon belas kasih-Nya turun atas kita.
Tuhan Yesus Memberkati.