Bagi orang percaya sukacita adalah sebuah keputusan. Karena sukacita adalah senjata ampuh untuk kita melawan iblis. Dengan bersukacita maka kita dapat melawan perkataan iblis. Mari bersukacitalah !
1 Tesalonika 5 : 16
Bersukacitalah senantiasa
Filipi 4 : 4
Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan ! sekali lagi kukatakan : bersukacitalah.
Dua ayat ini mendorong kita untuk bersukacita. Sebab sukacita akan menguatkan kesaksian, memperbaiki ekspresi, memperbaiki kesehatan, dan menaikkan kualitas hidup kita.
Sukacita adalah kekuatan dari Tuhan. Bila kita memiliki kecenderungan untuk merumitkan segala sesuatu, hal itu akan mencuri sukacita kita.
Lukas 10 : 38 - 42
Ketika Yesus dan murid-muridNya dalam perjalanan, tibalah Ia disebuah kampung. seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia dirumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata : Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri ? Suruhlah dia membantu aku. Tetapi Tuhan menjawabnya : Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu : Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.
Yesus menegur Marta yang sibuk mengurusi hal-hal yang remeh. Namun Yesus memuji Maria yang memilih untuk mendengarkan perkataan Allah.
Mari kita memeriksa diri, mengapa kita tidak bersukacita ? Apakah kita memiliki Marta Sindrom, yaitu gejala-gejala dan tanda- tanda seperti Marta ?
Lukas 10 : 41 - 42
Tetapi Tuhan menjawabnya : Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu : Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.
Mengapa Marta kehilangan sukacita? Sebab ada pencuri sukacita dalam diri Marta
1. Kuatir
1 Petrus 5 : 7
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
Kuatir hanya menambah masalah, bukan membantu memberikan jawaban atas masalah.
2. Menyusahkan Diri
Mengapa kita menyusahkan diri ?
A. Ingin menyenangkan semua orang
Kolose 3 : 23
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
B. Ingin semua orang kagum pada saya
Matius 5 : 16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.
Arahkanlah hidup hanya kepada Yesus, sehingga membuat orang lain kagum kepada Yesus melalui hidup kita.
C. Ingin mengubah orang lain
Matius 7 : 12
Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Ingatlah Tuhan ingin kita mengasihi orang lain. Lebih baik kita mengubah diri kita sendiri lebih dulu. Keselamatan bukanlah reformasi, melainkan transformasi.
3. Mengambil banyak perkara
Matius 6 : 33
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Jika Tuhan prioritas, maka hidup kita berkualitas.
Maria bersukacita karena :
1. Percaya Saja
Lukas 10 : 39b
Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya.
2. Bergantung kepada Tuhan
Lukas 10 : 42b
Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.
Dua Pilihan dalam hidup, yaitu melakukan segala sesuatu sendiri, atau mengizinkan Tuhan untuk melakukannya bagi kita.
Sukacita berasal dari Tuhan yang masuk ke dalam kita, bukan dari apa yang terjadi di sekitar kita.
Dukacita dan penderitaan memang mewarnai kehidupan, tetapi kita dapat memilih warnanya, yakni sukacita. Bersukacilah karena kita memiliki Allah yang besar.
Tuhan Yesus Memberkati