Lukas 14 : 1
Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.
Suasana jamuan makan ini sarat dengan ketegangan sosial dan keagamaan. Orang-orang Farisi, yang dikenal sangat memperhatikan ketaatan lahiriah pada hukum serta kehormatan publik, sengaja memperhatikan setiap tindakan dan perkataan Yesus.
Di tengah situasi yang penuh pengamatan kritis itu, Yesus melihat dinamika perilaku para tamu dan menggunakan momen tersebut untuk lebih memberikan pengajaran rohani yang mendalam mengenai nilai-nilai Kerajaan Allah.
Kenapa Pesta Perkawinan ?
• Important Social Occasion.
Merupakan acara sosial utama dalam adat dan budaya orang Yahudi yang melibatkan seluruh komunitas.
• Indicated one’s Social Position.
Tempat duduk menentukan status. Orang yang dihormati akan duduk di tempat khusus (reserved).
• Showing Off Their Wealth.
Ajang memamerkan kekayaan. Semakin mewah pesta, semakin tuan rumah dihormati dan dipuji.
Dalam budaya Timur Dekat Kuno, susunan tempat duduk dalam sebuah pesta bukanlah sekadar masalah kenyamanan fisik, melainkan cerminan langsung dari hirarki sosial, reputasi, dan martabat seseorang di mata masyarakat. Semakin dekat posisi duduk seseorang dengan tuan rumah atau di area paling depan, semakin tinggi pula pengakuan atas status sosialnya.
Perumpamaan dari Yesus.
Melihat bagaimana para tamu undangan saling berebut dan memilih tempat-tempat kehormatan di pesta tersebut, Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan yang menelanjangi kecenderungan keangkuhan manusia sekaligus memberikan norma baru tentang kerendahan hati.
Lukas 14 : 7 - 9
Tempat yang paling utama dan yang paling rendah - Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka : Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.
Melalui peringatan ini, Yesus menyingkapkan bahaya dari rasa percaya diri yang berlebihan dan dorongan untuk meninggikan diri sendiri. Ketika seseorang secara mandiri mengklaim posisi kehormatan tanpa persetujuan tuan rumah, ia menempatkan dirinya pada risiko rasa malu di hadapan publik.
Sebagai pembanding dan penawar terhadap kecenderungan egoistis tersebut, Yesus memberikan petunjuk praktis mengenai bagaimana seorang murid seharusnya bersikap ketika diundang.
Lukas 14 : 10
Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.
Apa yang Yesus mau ajarkan buat kita ?
1. Selalu menjadi rendah hati.
“In lowliness of mind esteems others better than himself.” Menganggap orang lain lebih utama dari diri sendiri.
2. Tidak memegahkan diri.
Filled with such a high opinion of ourselves. Mengontrol diri agar tidak merasa superior atau merasa paling bernilai.
3. Setia menunggu waktu Tuhan.
Instead of raising yourself up to prominence. Tidak memaksakan diri mencari panggung atau pengakuan dunia.
Lukas 14 : 11
Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.
Dunia mengajarkan manusia untuk mempromosikan diri sendiri, berebut posisi, dan menuntut penghormatan dari orang lain demi mencapai keberhasilan. Namun, standar Kerajaan Allah mengajarkan cara yang berbeda.
Kerendahan hati yang sejati bukanlah berpura-pura tidak memiliki kelebihan atau merendahkan nilai diri secara tak sehat, melainkan kesadaran penuh bahwa segala hal yang kita miliki adalah anugerah Tuhan. Kerendahan hati yang sejati ditunjukkan melalui ketulusan dalam menghargai orang lain, menahan diri dari dorongan memamerkan pencapaian atau kekayaan, serta percaya penuh bahwa Allah sendiri yang akan mengangkat dan meninggikan hidup kita pada waktu-Nya yang tepat.
Sebagai umat-Nya, kita diajak untuk terus-menerus menjaga hati dari segala bentuk keangkuhan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pelayanan, pekerjaan, maupun komunitas, dan persekutuan yang lainnya.
Tuhan Yesus Memberkati