Filipi 2:5-9, "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama."
Sikap kita akan menentukan keputusan kita, keputusan kita benar maka akan bertindak dengan benar juga. Sikap itu harus dibina sedini mungkin. Orang dihargai atau tidak tergantung sikapnya. Kita respek kepada seseorang karena sikapnya. Tapi sikap kita juga bisa menjadi cemoohan orang lain dan menghancurkan kita.
Mengapa Tuhan mengangkat Daud sebagai raja dan menolak Saul? Semuanya karena sikap keduanya. Daud memiliki sikap yang benar dengan tetap mencari Tuhan dengan segenap hatinya. Sikap Daud inilah yang membuat dia berkenan kepada Tuhan. Sementara Saul memiliki sikap yang angkuh. Sikap Saul inilah yang membuat dia tidak berkenan kepada Tuhan.
Yesus membangun sikap yang benar kepada para murid-Nya. Inilah fondasi pembelajaran Yesus kepada mereka. Khotbahnya berbicara tentang sikap (8 sabda bahagia). Yesus ingin para murid-Nya memiliki sikap (attitude) yang benar sebelum melayani.
Keberhasilan kita ditentukan sikap kita. Allah sangat meninggikan Yesus karena memiliki sikap yang benar, yaitu taat, setia, rendah hati dan menghormati Bapa. Demikian pula dengan kita. Bagi Tuhan sikap kita lebih penting dari potensi kita.
Attitud itu adalah apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan, itulah sikap. Kalau kita berpikir benar maka tindakan kita juga akan benar. Sikap adalah gabungan dari apa yang kita pikirkan (what you think) dan perasaan (what you fell). Pikiran itu aset kita, kekayaan kita. Apa yang Anda pikirkan adalah apa yang akan Anda yakini; apa yang Anda yakini akan menghasilkan tindakan, tindakaan yang dilakukan dengan terus-menerus akan menghasilkan kebiasaan; dan kebiasaan akan membentuk karakter. Sukses atau tidak, kaya atau miskin ditentukan oleh mindset kita, dan mindset dibentuk oleh attitud. Mindset orang yang diberkati adalah memberi, sementara mindset kemiskinan adalah suka menerima.
Maka dari itu mindset kita harus ditujukan dan ditaklukkan kepada Kristus sehingga memiliki pikiran Kristus. Contoh: kalau seseorang ingin menikah biasanya mencari orang yang cocok, sama dan sepaham. Padahal, menikah itu dua pribadi yang berbeda dipersatukan agar saling melengkapi.
Attitude bukan hanya sekedar pikiran, tapi juga menyangkut perasaan (emosi). Namun sayang banyak sekali emosi kita dipengaruni oleh faktor dari luar. Kalau dipuji, kita senang dan bangga, tapi kalau dicela kita kecewa dan marah. Untuk itu kita harus memiliki pikiran dan perasaan seperti Yesus, agar sikap kita benar dan berkenan kepada Tuhan.