
Beberapa hari yang lalu, tempat kerja istri saya menjalani diaudit oleh suatu pihak pemerintahan.
Audit sendiri menurut kamus, artinya pemeriksaan pembukuan tentang keuangan (perusahaan, bank, dan sebagainya) secara berkala; pengujian efektivitas keluar masuknya uang dan penilaian kewajaran laporan yang dihasilkannya; pemeriksaan terhadap peralatan, program, aktivitas, dan prosedur untuk menentukan efisiensi dari kinerja keseluruhan sistem terutama untuk menjamin integritas dan keamanan data.
Bicara tentang "audit rohani", saya tergelitik bagaimana seandainya Allah sendiri yang mengaudit hati, hidup, maupun hari-hari kita?
Atau, pernahkah kita, seperti Daud, dengan kesadaran diri, meminta, memohon kepada Allah sendiri untuk "mengaudit" kita?
Mazmur 139:23-24 (BIS), "Selidikilah aku ya Allah, selamilah hatiku, ujilah aku dan ketahuilah pikiranku. Lihatlah entah ada kejahatan dalam diriku, dan bimbinglah aku di jalan yang kekal."
Selidikilah aku, ya Allah, dan ketahuilah hatiku; ujilah pikiranku. Tunjukkanlah segala sesuatu di dalam diriku yang membuat Engkau sedih dan tuntunlah aku di jalan hidup yang kekal. (FAYH)
Investigate my life, O God, find out everything about me; Cross-examine and test me, get a clear picture of what I'm about; See for yourself whether I've done anything wrong--then guide me on the road to eternal life. (MSG)
Daud berdoa, begitu juga hendaknya setiap kita, supaya bukan saja dimampukan oleh Tuhan untuk membenci ketidakbenaran di dunia ini, tetapi juga benar-benar mengetahui kalau ada sesuatu di dalam diri kita yang mendukakan hati-Nya.
Hari ini kita diingatkan untuk bersedia meminta Allah menguji --"audit rohani"-- supaya proses pembentukan karakter yang benar dari Dia dapat terus terjadi dan semakin lebih baik lagi. Kalau ada sesuatu yang masih salah ataupun tidak benar, berbaliklah kepada Tuhan dalam pertobatan.
~ FG