
Corrie ten Boom pernah menceritakan pengalamannya ketika masih berada di kamp konsentrasi Nazi bersama almarhumah kakaknya, Betsie ten Boom.
Ketika itu, di Ravensbruck, salah satu kamp yang sangat buruk memperlakukan para tawanannya, selain di Auschwitz, mereka berdua ditempatkan di dalam barak perempuan yang dipenuhi oleh lalat-lalat. Di mana-mana ada lalat, di kasur, di pakaian-pakaian, bahkan di atas rambut mereka.
Meski begitu, sang kakak yang bijak, Betsie mengajak adiknya itu, Corrie untuk tetap bersyukur saja. Namun, awalnya Corrie merasa kesulitan untuk mengucap syukur meski ada lalat-lalat di barak mereka. Betsie mengingatkan akan firman Tuhan:
1 Tesalonika 5:18 (BIS), "Dalam segala keadaan hendaklah kalian bersyukur, sebab itulah yang Allah inginkan dari kalian sebagai orang yang hidup bersatu dengan Kristus Yesus."
Apa pun keadaan yang sedang kalian hadapi, kalian harus selalu mengucap syukur pada Allah. Memang itulah yang Allah inginkan dari kalian, sebab kalian sudah menjadi milik Kristus Yesus, anak-Nya. (BSD)
Thank [God] in everything [no matter what the circumstances may be, be thankful and give thanks], for this is the will of God for you [who are] in Christ Jesus [the Revealer and Mediator of that will]. (AMP)
Corrie akhirnya menyadari kebenaran itu. Mengapa? Sebab, para petugas Nazi tidak mau masuk ke dalam barak perempuan yang penuh lalat tersebut, sehingga Betsie dan Corrie dapat mengajak tawanan-tawanan perempuan lain untuk berdoa bersama dan merenungkan firman Tuhan, suatu hal yang benar-benar dilarang di kamp-kamp konsentrasi Nazi.
Tanpa adanya lalat-lalat itu, mungkin mereka berdua takkan bisa melakukannya.
Di dalam segala hal. Apa pun keadaan. Mengucap syukurlah. Bukan mengucap syukur atas hal-hal buruk yang terjadi, melainkan sikap hati yang mau tetap memilih untuk bersyukur, sekalipun sedang menghadapi, mengalami maupun menjalani hal-hal tersebut. Tentu tidak mudah, namun dengan pun tidak bersyukur malah akan menambah tidak mudah. Oleh karena itu, bukankah lebih baik untuk belajar bersyukur?
Di dalam segala hal. Apa pun keadaan. Jadi, bukan di dalam "beberapa hal" saja, atau "keadaan tertentu" saja. Dan kiranya Tuhan mengubahkan hal-hal yang di luar kehendak ataupun kendali kita tersebut menjadi kesempatan untuk sesuatu yang lebih baik, serta kesempatan untuk kita mengucap syukur.
Adakah kita perlu ucapkan syukur untuk "lalat-lalat" hari ini?
"Doubt kills more dreams than failure ever will." (Suzy Kassem)
~ FG