
Lukas 9:33-34, "Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: 'Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?' Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka."
Mereka sampai di Kapernaum. Setelah di rumah, Yesus bertanya kepada pengikut-pengikut-Nya, "Kalian mempersoalkan apa di tengah jalan tadi?" Mereka tidak menjawab, sebab di tengah jalan mereka bertengkar mengenai siapa yang terbesar. (BIS)
They came to Capernaum. When he was safe at home, he asked them, "What were you discussing on the road?" The silence was deafening--they had been arguing with one another over who among them was greatest. (MSG)
Hal yang wajar, mungkin lumrah, di mata orang-orang di dunia, untuk ingin menjadi maupun merasa sebagai yang terbaik ataupun yang paling besar menurut ukuran dan standar dunia. Dalam hal prestasi, kepintaran, kesuksesan, maupun ukuran lainnya.
Tetapi kita anak-anak Tuhan tentu memiliki cara hidup maupun pola pikir serta arah hati yang berbeda daripada yang seperti demikian. Ataukah kita masih melakukan yang sama saja dengan mereka?
Para murid pun pernah seperti itu. Mereka lupa bahwa Ada yang terbesar di antara mereka, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Kadang memang sebelum mata rohani kita dicelikkan, kita akan selalu lupa pada kebenaran ataupun kehadiran Tuhan. Bahkan setelah dibukakan pun terkadang kita bisa saja lupa ataupun tidak menyadarinya, apalagi jika masih buta rohani.
Apa yang Tuhan ajarkan, berbeda dari apa yang diajarkan oleh dunia.
Jika kita ingin merasa menjadi yang paling penting, pesan firman Tuhan hari ini justru mengingatkan kita sebaliknya untuk merendahkan hati saja, memilih untuk melayani, serta menganggap orang yang lain yang lebih utama daripada diri kita sendiri.
Atau sudah lupakah kita caranya untuk menjadi rendah hati, melayani, dan mendahulukan, mengutamakan orang lain?
Markus 9:35, "Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: 'Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.'"
Ia duduk dan memanggil murid-murid-Nya, lalu berkata, "Siapa ingin menjadi yang terbesar, haruslah menjadi yang terkecil -- pelayan dari semua." (FAYH)
He sat down, he summoned the twelve disciples to come close to him, and then he said to them, "If anyone wants God to consider him to be the most important person of all, he must consider himself to be the least important person of all, and he must serve everyone else." (DEIBLER)
Mungkin pertanyaan yang lebih baik daripada siapa yang terbesar di antara mereka, seharusnya bertanyalah mereka tentang siapa yang terkecil, ataupun mau menjadi yang paling tidak penting? Tentu dengan motivasi yang murni dan ketulusan hati, tanpa bermaksud memegahkan diri ataupun menghakimi orang lain. Sebab, orang yang besar yang sejati pasti ingin mengangkat orang lain juga, dan tidak merasa diri sebagai yang terbesar, terbaik, terpenting. Lagipula, bukankah "di atas langit masih ada langit"?
~ FG