
Suatu hari, Hudson Taylor, seorang hamba Tuhan yang sangat luar biasa bekerja keras bagi Tuhan, ia berkata, "Aku begitu lemah hingga tidak bisa lagi bekerja. Aku begitu lemah hingga tidak bisa lagi belajar. Aku begitu lemah hingga tidak bisa lagi membaca Alkitabku. Bahkan untuk berdoa pun aku tidak mampu. Aku hanya bisa berbaring tenang di dalam pelukan Allah, seperti seorang anak kecil yang percaya penuh."
Mungkin akan ada saat-saat atau masa-masa di mana kita merasa tidak berdaya seperti itu. Entah karena usia. Entah karena suatu keadaan tertentu, ataupun hal lainnya.
Namun, kita selalu dapat bersandar, berserah, dan berharap penuh, seperti halnya yang dilakukan oleh hamba Allah tadi, Hudson Taylor, yaitu kepada Allah sendiri. Mungkin hari-hari ini ada "Hudson Taylor, Hudson Taylor" di antara kita. Yang tetap beriman kepada Tuhan. Doakanlah mereka juga, supaya tetap setia.
Allah sangat menghargai kelemahan kita yang jujur di hadapan-Nya. Sebab, Ia sendiri yang akan menolong kita, terlebih apabila kita mau bergantung dan mengandalkan Dia, dan bukan apa pun yang dari kita.
2 Korintus 12:9-10 (BIS), "Tetapi Tuhan menjawab, 'Aku mengasihi engkau dan itu sudah cukup untukmu; sebab kuasa-Ku justru paling kuat kalau kau dalam keadaan lemah.' Itu sebabnya saya lebih senang membanggakan kelemahan-kelemahan saya, sebab apabila saya lemah, maka justru pada waktu itulah saya merasakan Kristus melindungi saya dengan kekuatan-Nya. Jadi saya gembira dengan kelemahan-kelemahan saya. Saya juga gembira kalau oleh karena Kristus saya difitnah, saya mengalami kesulitan, dikejar-kejar dan saya mengalami kesukaran. Sebab kalau saya lemah, maka pada waktu itulah justru saya kuat."
Setiap kali Ia berkata: "Tidak. Tetapi Aku menyertai engkau. Hanya itu yang kauperlukan. Kuasa-Ku dapat diperlihatkan dengan jelas di dalam orang yang lemah." Sekarang saya bergembira dapat menjadi pernyataan yang hidup dari kuasa Kristus, dan bukannya memamerkan kuasa dan kecakapan saya sendiri. Karena saya tahu bahwa semua itu bagi kepentingan Kristus, maka saya tidak berkecil hati mengenai "duri itu", dan mengenai penghinaan, kesukaran serta penganiayaan. Sebab, apabila saya lemah, saya menjadi kuat. Makin sedikit yang saya miliki, makin banyak saya menggantungkan diri kepada-Nya. (FAYH)
But He said to me, My grace (My favor and loving-kindness and mercy) is enough for you [sufficient against any danger and enables you to bear the trouble manfully]; for My strength and power are made perfect (fulfilled and completed) {and show themselves most effective} in [your] weakness. Therefore, I will all the more gladly glory in my weaknesses and infirmities, that the strength and power of Christ (the Messiah) may rest (yes, may pitch a tent over and dwell) upon me! So for the sake of Christ, I am well pleased and take pleasure in infirmities, insults, hardships, persecutions, perplexities and distresses; for when I am weak [in human strength], then am I [truly] strong (able, powerful in divine strength). (AMP)
And then he told me, My grace is enough; it's all you need. My strength comes into its own in your weakness. Once I heard that, I was glad to let it happen. I quit focusing on the handicap and began appreciating the gift. It was a case of Christ's strength moving in on my weakness. Now I take limitations in stride, and with good cheer, these limitations that cut me down to size--abuse, accidents, opposition, bad breaks. I just let Christ take over! And so the weaker I get, the stronger I become. (MSG)
Itulah paradoks terbaik. Semakin kita merasa lemah, semakin kita mestinya bergantung kepada Tuhan. Dan semakin kita mau bergantung kepada-Nya, justru di situlah kita semakin menjadi kuat. Bukan karena kita, tetapi karena Dia.
~ FG