
Ibrani 13:8 (TB2), "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya."
Kristus Yesus tidak pernah berubah sejak dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya. (TSI)
For Jesus doesn't change--yesterday, today, tomorrow, he's always totally himself. (MSG)
Membaca sebuah tulisan tentang perjalanan gereja sejak Pentakosta sampai hari ini, sekitar dua ribu tahun lebih, saya membayangkan betapa banyak perubahan yang terjadi seiring berjalannya waktu.
Ketika Petrus berkhotbah di Yerusalem, saat itu belum ada mesin cetak. Belum ada mikrofon, radio, televisi, internet, apalagi kecerdasan buatan atau AI. Kalau Paulus ingin menguatkan jemaat di Korintus, ia harus menulis surat dengan tangan, menyerahkannya kepada seseorang, lalu berharap surat itu selamat sampai tujuan.
Nah, coba bayangkan bagaimana kalau para rasul itu hidup di zaman now, tahun 2026?
Mungkin Paulus punya grup WhatsApp untuk jemaat Efesus. Mungkin Lukas membuat channel YouTube yang menceritakan perjalanan misi mereka. Mungkin Timotius mengelola media sosial. Bahkan, mungkin --mungin saja-- Paulus bertanya kepada AI, "Bagaimana menjelaskan kasih karunia kepada generasi yang hanya punya waktu delapan detik sebelum scroll layar berikutnya?"
Entahlah. Tetapi saya yakin satu hal, Paulus tidak akan sibuk mempertahankan cara lama hanya karena itu yang ia kenal. Sejak awal, ia selalu memakai jalan yang tersedia. Ia berkhotbah di rumah-rumah, di pasar, di sinagoge, di kapal, di penjara, bahkan melalui surat ketika ia tidak bisa hadir secara langsung. Baginya, medianya bisa berubah. Injilnya tidak.
Saya jadi sadar, sepanjang sejarah gereja, yang terus berubah bukanlah Kabar Baiknya. Yang berubah adalah cara Kabar Baik itu sampai kepada manusia. Ketika dunia membangun jalan Romawi, Injil berjalan di atas jalan Romawi. Ketika mesin cetak ditemukan, Alkitab mulai dicetak dalam jumlah besar. Ketika radio dan televisi hadir, firman Tuhan ikut terdengar melalui gelombang udara. Ketika internet menghubungkan dunia, Injil menyeberangi batas negara hanya dengan satu klik.
Hari ini kita hidup di era AI atau kecerdasan buatan. Pertanyaannya bukan lagi, "Bolehkah orang Kristen memakai AI?" Pertanyaan yang lebih penting mungkin justru, "Apakah kita cukup peka untuk memakai setiap kesempatan yang Tuhan berikan agar lebih banyak orang mengenal Kristus, dan firman Tuhan?"
Saya teringat perkataan Yesus, "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu." Dua ribu tahun telah membuktikan kalimat itu. Kekaisaran Romawi runtuh. Bahasa berubah. Budaya berganti. Teknologi berkembang begitu cepat hingga kita kadang kewalahan mengikutinya. Namun, firman Tuhan dan perluasan kerajaan Allah tetap menemukan jalannya kepada manusia. Bahkan, mungkin Saudara dan saya pun memperoleh serta mengenal keselamatan dalam Tuhan melalui tulisan di sebuah media sosial.
D isini saya dikuatkan, Tuhan mungkin tidak meminta kita hidup di abad pertama. Ia juga tidak meminta kita hidup seratus tahun yang akan datang. Ia sengaja menempatkan kita di musim ini, di zaman ini, di era ini, dengan segala tantangan dan alat-alat atau sarana yang tersedia, dan meski setiap masa memiliki "bahasanya" sendiri, setiap generasi tetap membutuhkan Juruselamat yang sama. Tuhan Yesus Kristus.
"Tuhan," cobalah doakan, "di hari-hari ini, bagaimana Engkau ingin memakai hidupku untuk membawa seseorang lebih dekat kepada dan mengenal-Mu?"
Yang Tuhan cari mungin bukan orang-orang yang paling modern ataupun yang paling tradisional, melainkan Ia lebih mencari murid-murid yang bersedia berjalan bersama-Nya, di musim apa pun.
Kisah Para Rasul 13:36a, "Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya."
Pada masa hidupnya, Daud melakukan kehendak Allah. (TMV)
For David, after he had served God's will and purpose and counsel in his own generation… (AMP)
~ JP