
1 Petrus 4:8, "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa."
Most of all, love each other as if your life depended on it. Love makes up for practically anything. (MSG)
Beberapa minggu ini, saya belajar sesuatu yang luar biasa, sekalipun di tengah-tengah waktu ketika suami saya mengalami serangan jantung. Puji Tuhan, ia melewatinya. Namun sejak hari itu, ada satu perasaan yang diam-diam tinggal di hati saya. Setiap pagi, ketika kami masih bisa sarapan bersama, setiap malam ketika mendengar suaranya memanggil dari ruangan lain, saya tiba-tiba sadar bahwa semua itu bukan rutinitas. Itu anugerah.
Lucunya, tidak ada yang benar-benar berubah. Orangnya masih sama. Rumahnya masih sama. Percakapan kami juga tidak jauh berbeda. Yang berubah adalah cara saya memandang semuanya.
Saya mulai mengerti mengapa orang sering berkata bahwa kita baru menghargai sesuatu setelah mungin hampir ataupun akan kehilangannya. Padahal, kalau dipikir-pikir, orang yang kita kasihi itu tidak pernah berubah menjadi lebih berharga. Sejak awal, mereka memang berharga. Hanya, kesibukan, beban tanggung jawab, serta berbagai hal lainya mungkin membuat kita menganggap kehadiran mereka sebagai sesuatu yang pasti.
Hari ini, kita diingatkan, jangan menunggu kesempatan besar untuk menunjukkan kasih. They do not love who do not express their love. Teleponlah sebentar. Duduk berdua, tanpa terburu-buru, atau memperhatikan sosial media. Dengarkan cerita yang mungkin sudah pernah kita dengar berkali-kali. Ucapkan terima kasih. Minta maaf. Peluk. Hal-hal kecil seperti itu ternyata sering kali menjadi bentuk kasih yang paling nyata.
Ini juga mungkin mengingatkan kita tentang bagaimana Yesus hidup bersama murid-murid-Nya. Kalau dihitung, pelayanan-Nya hanya sekitar tiga tahunan. Sangat singkat memang. Namun, tidak dipenuhi kisah tentang Yesus yang harus selalu terburu-buru mengejar target. Ia berjalan bersama mereka, makan bersama mereka, mendengar pertanyaan-pertanyaan mereka yang kadang terdengar konyol, bahkan menyediakan sarapan di tepi danau setelah kebangkitan-Nya. Mukjizat terbesar memang mengubah hidup banyak orang, tetapi justru sering kali melalui momen-momen sederhana itulah yang membentuk persahabatan mereka.
Yesus tahu sesuatu yang sering saya, dan juga mungkin Saudara, sering lupakan. Kasih tidak hanya diingat melalui peristiwa-peristiwa besar. Kasih justru tumbuh di dalam ribuan momen biasa yang kita pilih untuk tidak terburu-buru melewatinya.
Saya tidak tahu berapa lama Tuhan masih mengizinkan saya menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang saya kasihi. Demikian juga Saudara. Saya juga tidak tahu apakah besok masih ada kesempatan untuk bercanda, meminta maaf, atau sekadar duduk tanpa mengatakan apa-apa. Tetapi, mungkin memang kita tidak perlu tahu segala sesuatunya. Kalau kita tahu persis kapan seseorang akan pergi, mungkin kita hanya akan mengasihinya menjelang hari itu. Tuhan tidak memberi kita tanggalnya. Sebaliknya, Ia memberi kita hari ini.
Hari ini, sebelum kesibukan mengambil alih, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak. Lihatlah, sadarilah, bersyukurlah untuk orang-orang yang Tuhan titipkan, taruh, serta pertemukan di sekitar kita. Selagi masih ada waktu.
"Measure your progress by your experience of the love of God and its exercise before men." (Ukurlah perkembangan rohani kita berdasarkan pengalaman akan kasih Allah serta mempraktikkan kasih itu terhadap sesama manusia.) ~ William Wilberforce
~ JP