📌 Ringkasan sebelumnya : Markus 6
Tak ada tempat seistimewa Nazaret. Selama tiga puluh tahun Anak Allah tinggal di kota itu. Selama itu pula penduduk Nazaret menyaksikan bagaimana Dia hidup.
Yesus meninggalkan Nazaret sebagai tukang kayu. Ia kembali ke sana sebagai seorang rabbi, lengkap dengan murid-murid. Saat Yesus mengajar di rumah ibadat pada hari Sabat mungkin merupakan saat pertama kali orang-orang di daerah itu mendengar Dia mengajar. Bagaimana reaksi mereka? Mereka heran dan bertanya-tanya.
Sepengetahuan mereka, Yesus adalah anak tukang kayu. Di dalam budaya Yahudi pada waktu itu, anak seorang tukang kayu akan diajar untuk menjadi tukang kayu juga. Lalu dari mana Yesus mendapat kemampuan dan kuasa untuk mengajar? Pengenalan mereka terhadap keluarga dan kehidupan Yesus sebelumnya membuat mereka sulit menerima bahwa Ia bukan manusia biasa. Keheranan mereka bukanlah wujud kekaguman melainkan suatu gugatan karena tidak dapat menerima kenyataan itu.
Bagaimana reaksi Yesus? Yesus menerima penolakan itu sebagai bagian dari harga yang harus dibayar. Penolakan orang Nazaret untuk percaya pada Yesus membuat Yesus tidak mengadakan banyak mukjizat di tempat itu. Ketidakpercayaan mereka membuat Tuhan tidak berkarya. Karya Tuhan bukan untuk ditonton, tetapi untuk diimani.
📖 Pengantar Markus 7
Integritas bermakna utuh, tidak terbagi-bagi. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, integritas sering dimaknai dengan hidup dalam satu kata dan satu perbuatan. Perbedaan antara kata dan perbuatan menunjukkan kegagalan dalam mewujudkan jati diri yang utuh.
Kepada serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat, Yesus mengatakan bahwa mereka seperti yang dikatakan oleh Nabi Yesaya. Nabi Yesaya pernah bernubuat tentang bangsanya. Mereka adalah bangsa yang munafik.