📌 Ringkasan sebelumnya : Yohanes 20
Dalam kekalutan karena Yesus, Guru mereka, mati secara mengenaskan, tak satu pun murid yang mengingat perkataan Yesus mengenai kepergian-Nya. Masing-masing sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Maria Magdalena adalah orang yang pertama kali tiba di kubur Yesus. Pagi-pagi benar, saat hari masih gelap, ia sudah tiba di sana. Namun apa mau dikata? Kubur Yesus kosong, batu kubur-Nya telah terguling! Fakta itu membuat Maria buru-buru mengambil kesimpulan: mayat Yesus diambil orang! Kesimpulan itu pula yang disampaikan kepada kedua orang murid Tuhan, yang kemudian pergi mendatangi kubur Yesus dan melihat bahwa cerita Maria Magdalena benar adanya). Setelah kedua murid Yesus itu pulang, Maria tetap tinggal di kubur itu. Ia menangis sendirian. Ia tidak mengira atau berharap bahwa Yesus akan bangkit. Ia hanya ingin memberikan penguburan yang layak. Maka ketika dua malaikat menanyai alasannya menangis, ia memberikan jawaban sama, seperti jawabannya kepada Petrus dan Yohanes. Jika saja Maria tahu mengapa kubur itu kosong, niscaya ia takkan menangis. Lalu Maria melihat Yesus dan mendengar pertanyaan-Nya. Namun Maria tidak menyadari bahwa orang itu adalah Yesus. Baru ketika Yesus memanggil namanya, Maria sadar bahwa itulah suara Gurunya, yang dia tangisi sebelumnya. Yesus kemudian menyuruh Maria untuk memberitahu murid-murid-Nya bahwa Ia akan pergi kepada Bapa.
Berita yang disampaikan Maria kepada para murid akan menyadarkan mereka bahwa Yesus bangkit. Berita ini perlu kita gemakan terus. Yesus bangkit! Yesus hidup! Jangan ragu dan jangan takut. Beitakanlah kebangkitan-Nya agar orang yang mendengar jadi bersukacita kerena memiliki kepastian tentang keselamatan hidupnya kelak.
📖 Pengantar Yohanes 21
Yesus tidak saja menampakkan diri dalam persekutuan, tetapi juga menampakkan diri kepada murid-murid-Nya ketika sedang melakukan pekerjaan rutin; ketika sedang membanting tulang mencari nafkah, menebarkan jala mencari ikan. Yesus juga memberi petunjuk ke arah mana jala harus ditebarkan.Â
Bukankah seringkali kita menganggap sepele semua yang rutin, semua yang kita kerjakan setiap hari, sehingga tidak ada waktu untuk mendengarkan suara Tuhan ketika Tuhan memberikan petunjuk, ke arah mana seharusnya kita "menebarkan jala" kita? Semua ini, karena kita menempatkan kedudukan Yesus hanya di tempat-tempat ibadah