📌 Ringkasan sebelumnya : Matius 5
Murid Tuhan sejati adalah orang yang tidak bersandar pada kekuatan sendiri melainkan pada Allah sebagai sumbernya. Oleh karena itu ia mengaku diri miskin di hadapan Allah, menolak sukacita yang ditawarkan oleh dunia ini, serta lapar dan haus akan kebenaran. Ia hanya meneladani sikap Sang Guru yang lemah lembut, murah hati, serta membawa damai. Ia memelihara hati yang suci, walaupun untuk itu ia harus siap menerima dengan sukacita ketika dianiaya oleh sebab kebenaran. Karakter murid Tuhan menyatakan kualitas hidupnya.
Orang Kristen harus menjadi manusia yang dibutuhkan oleh setiap orang. Kalau tidak lagi ada beda antara Kristen dan dunia ini, Kristen menjadi tak berguna, akan dilecehkan, diacuhkan, atau disingkirkan. Inilah peringatan Tuhan. Kehadiran Kristen di tengah dunia adalah juga kehadiran Kristus. Wajarlah bila dimana pun Kristen berada, seharusnya lingkungan sekitarnya merasakan dampaknya. Dampak itu harus terpancar baik melalui pewartaan Injil maupun melalui sikap hidup dan perbuatan baik kita. Bersaksi dan berbuat baik adalah sarana untuk membahagiakan sesama kita.
Murid sejati memberi dirinya dibentuk oleh Tuhan dan bukan oleh dunia ini. Itu sebabnya, bukan hanya karakternya meniru karakter Kristus, secara aktif dan kreatif seorang murid sejati hadir memancarkan terang Sang Guru di dalam dunia yang gelap. Kualitas karakternya membuat kualitas terang Ilahi memancar melalui dirinya. Dia menghadirkan pengaruh Ilahi dalam perjumpaannya dengan dunia ini, yaitu menggarami dunia dengan kualitas kehidupan Kristen sejati.
📖 Pengantar Matius 6
Salah satu bagian dari Khotbah di Bukit yang disampaikan Yesus menyoroti kehidupan beragama orang-orang Yahudi pada masa itu. Dalam kewajiban agama Yahudi, ada tiga hal utama yang harus mereka lakukan, yaitu bersedekah, berdoa, dan berpuasa. Sayangnya, mereka melakukannya tidak lagi dengan tertuju kepada Allah, melainkan diri sendiri.