📌 Ringkasan sebelumnya : Yunus 2
Tidak ada kata terlambat untuk berdoa. Hal ini terlihat pada doa Yunus dari dalam perut ikan. Tuhan tetap berkenan untuk mendengar doanya, walau sepertinya sudah terlambat.
Yunus yang berada dalam perut ikan akhirnya membuka mulutnya untuk berdoa. Dalam pasal 1 Yunus tidak mau berdoa meminta pertolongan Tuhan dan lebih rela dibuang ke laut. Tetapi ketika kematian terasa begitu dekat, dalam kesesakan yang luar biasa, akhirnya ia pun berdoa.
Kesesakan Yunus dapat kita lihat dari tiga kali kata "dari" yang dipakai penulis. Yunus dikatakan berdoa dari dalam perut ikan, dan katanya: "Dari (LAI tidak menuliskan kata ini) dalam kesusahan aku berseru... dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak . . . .". Mungkin sepertinya sudah terlambat bagi Yunus untuk berdoa, seharusnya dia berdoa ketika belum dibuang ke laut. Namun, bagi Yunus tidak ada kata terlambat untuk berdoa, tidak ada kesesakan yang akan dapat menghalangi Tuhan. Yunus sangat yakin Tuhan mendengarkan doanya, yang ia gambarkan sebagai "Ia menjawab aku" dan "Kau dengarkan suaraku". Ia juga membayangkan bahwa doanya sampai kepada bait Tuhan yang kudus.
Yunus mengerti bahwa walaupun awak kapal yang membuangnya ke laut, tetapi sesungguhnya Tuhan yang mengizinkannya. Karena itu, ia berkata: "Telah Kau (Tuhan) lemparkan aku ke tempat yang dalam". Karena Tuhan yang telah melemparkan dia ke laut, maka hanya Tuhan yang dapat menolongnya.
📖 Pengantar Yunus 3
Kejahatan Niniwe sampai di telinga Allah. Tetapi sebelum melaksanakan hukuman, Allah hendak memperingatkan mereka. Untuk itu Yunus diutus kembali. Yunus hanya menyampaikan berita penghukuman yang akan Allah jatuhkan, dan sama sekali tidak menyinggung agar mereka bertobat dari tingkah langkah mereka yang jahat.
Allah tidak pernah menolak mereka yang menyesali dosanya. Sekalipun kita merasa bahwa kita sudah sangat jauh dari Tuhan, tetapi sesungguhnya Ia tidak pernah berlambat-lambat untuk mendengar seruan umat-Nya.