📌 Ringkasan sebelumnya : Amos 5
Akibat ketidakadilan sosial dan kekerasan yang merajalela di ibu kota Samaria, Tuhan menjatuhkan hukuman yang keras kepada Israel. Negeri itu ditanduskan. Orang-orangnya dibuang ke pengasingan. Begitu sedikit yang tersisa. Hanya orang yang tua, lemah, sakit, dan cacat yang dibiarkan mengembara di reruntuhan kota-kota Israel. Hal itu tergenapi setelah penyerbuan Asyur dan pembuangan ke Babel. Untuk waktu yang sangat panjang, bangsa Israel tidak mempunyai kekuatan untuk bangkit sebagai sebuah kerajaan.
Namun, menghukum Israel bukanlah hal yang dinikmati Tuhan. Ia meratapi keadaan mereka. Ia gemas terhadap pemberontakan, tetapi Ia juga merindukan mereka kembali. "Carilah Aku, maka kamu akan hidup!". Dapatkah kita membayangkan wajah Tuhan ketika Dia mengatakan hal itu? Seperti seorang ayah yang rindu menyambut anaknya yang hilang, Tuhan membuka tangan-Nya mengundang Israel bertobat.
Jikalau seseorang bertanya, "Di manakah kami harus mencari Tuhan?", Amos telah menyiapkan jawabannya. Jangan mencari Tuhan di Betel, Gilgal, atau tempat-tempat lain mana pun yang dianggap keramat. Tempat-tempat itu akan diluluhlantakkan dan tidak akan ada lagi. Ini mengingatkan kita akan perkataan Yesus kepada perempuan Samaria: "... kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem" (Yoh. 4:21). Penyembah sejati akan menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran.
📖 Pengantar Amos 6
Tindakan penghukuman Allah untuk bangsa Israel menjadi peringatan keras bagi kita, orang percaya masa kini. Sering kita merasa kuat dan mampu melakukan segala sesuatu tanpa Allah. Bahkan sering pula kita menutup mata terhadap berbagai krisis atau bencana yang terjadi di sekitar kita, karena kita tidak tanggap membaca tanda- tanda zaman.