Konteks umum dari Yohanes 20:1-8 adalah setelah Yesus disalib, imam-imam kepala dan orang Farisi berjaga-jaga dengan antisipasi serius.
Matius 27:64
Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama.
Hari ini, kita akan mengamati tiga pengamatan, mengenai batu, kain kafan, dan saksi:
• The Stone (Batu)
Markus 16:3
Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?"
Kita pelajari lebih dulu seperti apakah batu itu dari catatan Markus. Pertanyaan itu diungkapkan oleh para wanita yang akan pergi ke kubur di Minggu pagi. Ini bukan pertanyaan dramatis, tetapi sangat realistis. Batu itu besar. Cukup besar sehingga sekelompok perempuan tahu mereka tidak kuat untuk memindahkannya. Ketika mereka tiba, batu itu sudah tidak ada di sana. Dan Lukas mencatat:
Lukas 24:2
Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu.
Saya dulu berpikir batu itu disingkirkan supaya Yesus bisa keluar dari kubur. Sesungguhnya Yesus yang sudah bangkit tidak butuh pintu. Kita tahu ini melalui penampakan-Nya kepada murid-murid, Dia bisa masuk ke ruangan yang pintunya terkunci sekalipun.
Lalu untuk apa batu itu disingkirkan?
Batu itu disingkirkan untuk para saksi, supaya mereka bisa masuk, dan melihat kubur itu kosong. Tuhan sengaja membuka penutup kubur itu, supaya manusia bisa melihat sendiri bukti dari kebangkitan-Nya. Apa relevansinya bagi kita?
Kita sering berkata bahwa iman kita bersifat pribadi antara kita dan Dia. Artinya apa? Kita tidak bisa bilang saya orang Kristen karena orangtua, pasangan, dan lainnya. Hubungan kita dengan Dia haruslah berasal dari keputusan pribadi yang melangkah masuk lebih dalam lagi. Mungkin banyak “batu” atau hal yang sering menghalangi orang Kristen untuk sungguh-sungguh lebih serius lagi dalam pengenalannya akan Tuhan. Ada beberapa ‘batu’ penghalang yang umum menghalangi orang Kristen untuk serius dengan Tuhan:
- “Saya Terlalu Sibuk.”
Karier. Deadline. Meeting. Dan lainnya. Kehidupan profesional di kota besar seolah tidak pernah berhenti. Dan di tengah itu semua, urusan rohani terasa seperti satu tambahan di jadwal yang sudah terlalu padat. Padahal: “You always make time for what you believe matters.”
- “Saya Terlalu Banyak Pertanyaan dan Keraguan.”
Batu penghalang kedua bagi orang Kristen untuk lebih dalam lagi dalam perjalanan imannya adalah saat mereka ragu. Sebenarnya, saat seseorang mempertanyakan kebenaran iman, itu masih bagus. Pertahankan pertanyaan dan rasa ingin tahu itu. Karena iman yang sejati bukan iman yang tidak pernah bertanya, namun iman yang berani memeriksa sendiri.
Dalam contoh ini, masuk ke dalam kubur dan memeriksa bukti dari iman itu. Persis seperti yang Petrus dan Yohanes lakukan. Mereka tidak berdiri di luar dan berdebat. Mereka masuk. Mereka melihat. Mereka memeriksa. Kebangkitan bukan meminta kita untuk mematikan akal, kebangkitan mengundang kita untuk menggunakannya. “Doubt is not the opposite of faith. Doubt is the beginning of an honest search.”
- “Saya Takut Kehilangan Kebebasan Saya.”
Ini yang paling jarang diucapkan, tetapi kalau jujur, kita ragu lebih dalam lagi dalam iman karena hal ini. “Kalau saya serius dengan Tuhan, hidup saya akan jadi terbatas. Saya akan kehilangan hobi dan kesenangan saya.” Dan lainnya.
“Faith in Christ does not take your freedom. It reveals what freedom actually looks like.”
Yohanes 8:32
Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.
Saat batu itu sudah disingkirkan, Tuhan sedang berbicara kepada kita bahwa Dia rindu untuk kita melangkah masuk dan melihat kebenaran firman Tuhan. Banyak orang kristen ke gereja, bahkan sudah bertahun-tahun, namun hidupnya tidak pernah berubah. Kenapa? Karena alasan-alasan tadi maupun lainnya. Batu itu sudah disingkirkan bagi kita supaya mengalami sendiri iman di dalam Kristus.
• The Linen (Kain Kafan)
Ini adalah detail yang mungkin sering terlewatkan, padahal juga adalah detail penting dan punya makna rohani yang dalam. Ada dua hal: kain kafan tergeletak di tempatnya, dan kain peluh (seperti sapu tangan) di tempat yang terpisah dalam kondisi yang tergulung rapi. Yohanes mencatat detail ini di ayat 8, dan firman Tuhan katakan setelah melihat itu, ia percaya.
Pertanyaannya, apa yang dilihat Yohanes yang langsung membuatnya percaya?
Yang murid-murid lihat di kubur kosong itu adalah keteraturan yang sempurna di tempat yang seharusnya paling kacau, karena cara penguburan di zaman Yesus berbeda daripada pemakaman modern. Tubuh tidak dikubur di dalam tanah. Namun, dalam kubur batu abad pertama, tubuh diletakkan di atas bangku batu yang dipahat di dinding kubur. Itulah yang dimaksud "di tanah", yaitu permukaan datar dari bangku batu di mana tubuh Yesus pernah terbaring.
Kain kafan membungkus seluruh tubuh dari leher ke bawah, di dalam balutan kain itu ada campuran rempah-rempah di antara lipatannya untuk menahan bau dengan jumlah yang sangat banyak. Dan hal kedua yang mereka lihat adalah kain peluh menutup kepala, dan mengikat rahang.
Ketika Petrus masuk, kain kafan itu masih berada di posisinya di atas bangku batu. Tidak berserakan. Tidak berantakan. Tapi, rapi di tempatnya, karena tubuh yang dibungkus sudah tidak ada di sana.
Hal pertama yang membuat Yohanes langsung percaya bahwa Tuhan bangkit—ingat bahwa yang dikhawatirkan para pemuka agama dan Farisi adalah tubuh-Nya dicuri, maka dijaga sedemikian rupa—adalah kondisi kain kafan itu bukti bahwa tubuh Kristus tidak dicuri.
Bayangkan, kondisi tubuh yang sudah tiga hari di dalam kubur dalam iklim panas Timur Tengah. Kain kafan melapisi tubuh dengan rempah-rempah dan sudah menyatu dengan tubuh. Melepasnya bukan hanya sangat sulit secara fisik, tapi sangat menjijikkan. Tidak ada perampok kubur (tomb robber) waras yang akan melakukan itu. Kalau tubuh Kristus dicuri, pasti kubur itu akan berantakan, kain akan berserakan. Tetapi yang mereka temukan adalah keteraturan yang sempurna.
- This is not the scene of a crime. This is the scene of a resurrection!
Ingat kisah Lazarus. Yesus memanggil Lazarus keluar dari kubur setelah empat hari. Dan Lazarus keluar, masih terbungkus seluruh kain penguburannya. Dan Yesus berkata kepada orang-orang yang berdiri di sana: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan dia pergi." Lazarus butuh pertolongan manusia untuk lepas dari ikatannya.
Lazarus hidup kembali, tapi masih terikat. Yesus berbeda. Yesus tidak keluar masih terbungkus kain. Yesus keluar dari kain, tubuh yang sudah ditransformasi keluar dari kain kafan itu, dan tidak mati lagi namun kekal selamanya.
- Signifikansi Kain Peluh yang Diletakkan dengan Tangan-Nya Sendiri
Ada satu detail lagi. Kain peluh, kain yang menutup kepala Yesus, tidak ditemukan bersama kain kafan, melainkan terletak di tempat yang terpisah, tergulung rapi. Para ahli Alkitab mencatat kemungkinan yang sangat menarik: Yesus mungkin secara sadar mengambil kain peluh itu dengan tangan-Nya sendiri, setelah tangan-Nya bebas dari kain kafan, dan meletakkannya secara terpisah dengan rapi sebelum meninggalkan kubur.
Bayangkan itu sejenak.
Yesus baru saja mengalahkan maut. Peristiwa terbesar dalam sejarah alam semesta baru saja terjadi. Dan sebelum keluar, Dia berhenti. Mengambil kain peluh itu, dan meletakkannya dengan rapi di tempat yang terpisah. Tidak terburu-buru. Tidak panik. Tidak tergesa-gesa. Seolah-olah Dia berkata, "I WAS HERE. I AM DONE. I AM LEAVING.”
Yesus tidak pernah kalap atau panik; Dia tenang, Dia selalu punya sikap hati yang tenteram. Ingat cerita Tuhan Yesus tidur di buritan kapal pada saat badai? Murid-murid membangunkan-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa” (Markus 4:39-40)? Yesus bukan tidur karena tidak peduli. Dia tidur karena badai itu tidak mengancam kendali-Nya sedetik pun. Pola yang sama. Keteraturan di tengah kekacauan. Otoritas yang tidak tergoyahkan.
Mungkin hari-hari ini, kita juga mengalami kekacauan dari dalam diri maupun luar, namun Yesus yang mengalahkan maut dengan ketenangan yang sempurna, adalah Yesus yang sama hari ini! Yesus yang tertidur di buritan sementara badai mengamuk, adalah Yesus yang sama yang berdiri di tengah apa pun situasi kita hari ini. Dia tidak panik menghadapi kondisimu. Dia tidak terkejut dengan kekacauan di hidupmu. ‘He is still God in the midst of chaos.’
Dia adalah Raja Damai, bukan karena tidak ada badai, tetapi karena Dia tetap yang pegang kendali.
• The Witness (Saksi)
Inilah detail yang paling radikal (Yohanes 20:11-16). Yesus bangkit dari kematian. Peristiwa terbesar dalam sejarah manusia. Dan Dia memilih untuk menampakkan diri pertama kali kepada siapa? Seorang perempuan bernama Maria. Pilihan Yesus bukan pilihan yang acak.
Dalam budaya Yahudi abad pertama, kesaksian seorang perempuan tidak dianggap sah secara hukum. Seorang perempuan tidak bisa menjadi saksi di pengadilan. Dalam konteks sosial dan religius saat itu, perempuan adalah figur yang paling tidak memiliki kredibilitas sebagai saksi dari sebuah peristiwa besar.
Yesus tahu itu. Dan Dia tetap memilih Maria.
Bukan imam besar. Bukan gubernur Romawi. Bukan murid yang paling senior atau paling terpelajar. Dari sini, kita belajar Tuhan itu memilih saksi untuk beberapa kriteria:
1. Yang pertama adalah God chooses the least likely (Tuhan memilih yang tidak masuk hitungan).
2. Yang kedua adalah God chooses those who stays (Tuhan memilih mereka yang mau tinggal tetap).
Perhatikan apa yang terjadi setelah Petrus dan Yohanes masuk ke kubur.
Yohanes 20:10 (TB)
Lalu pulanglah kedua murid itu ke rumah.
Mereka melihat. Mereka memproses. Dan mereka pulang. Ini bukan kritik terhadap Petrus dan Yohanes, mereka juga percaya, mereka juga setia. Tapi Maria mendapat sesuatu yang ekstra. Sesuatu yang Petrus dan Yohanes tidak dapatkan hari itu. Mengapa? Karena Maria tidak pulang. Maria berdiri di sana. Menangis. Tidak mau pergi meski tidak ada alasan logis untuk tetap tinggal.
Dan Yesus menampakkan diri kepada yang tinggal.
Ini berbicara kepada kita semua yang mungkin sudah lama setia—datang ke gereja, berdoa, melayani—namun merasa belum mengalami perjumpaan ataupun terobosan yang kita rindukan. Jangan pergi meninggalkan iman. Tinggallah tetap di hadirat-Nya, dalam golongan umat percaya.
3. Yang ketiga adalah God chooses the broken (Tuhan memilih mereka yang hancur hati).
Maria datang ke kubur bukan dengan kekuatan. Bukan dengan strategi. Bukan dengan presentasi yang siap. Dia datang dengan air mata. Ketika malaikat bertanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?", Maria tidak berhenti menangis untuk menjawab; dia menjawab sambil menangis. Dan ketika Yesus berdiri di hadapannya—Maria bahkan tidak mengenali-Nya. Matanya penuh air mata. Hatinya hancur.
Yesus tidak menunggu Maria membereskan dirinya dulu. Tidak menunggu air matanya berhenti. Tidak menunggu dia kelihatan lebih layak. Yesus menampakkan diri-Nya tepat di tengah air matanya.
Mungkin hari ini kita dalam kondisi yang sama. Bukan dengan iman yang menyala-nyala, tapi dengan hati yang lelah, lemah, gundah. Bukan dengan sukacita—tapi beban yang sudah terlalu lama kamu bawa. ‘You fit the exact criteria!’ Kriteria apa? Orang yang akan dipakai Tuhan!
Satu lagi detail dari sudut yang berbeda.
Yohanes 20:2
Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”
Perhatikan apa yang dia sampaikan. Bukan kesaksian, tapi laporan. Bukan perjumpaan, tapi informasi. Maria berbicara tentang Tuhan, tapi belum berbicara dari Tuhan. Tetapi pada ayat 18, setelah namanya dipanggil, setelah dia berpaling dan melihat Yesus, ada empat kata: “Aku telah melihat Tuhan!”
Bukan lagi laporan. Ini adalah kesaksian dari seseorang yang sudah bertemu sendiri. Tidak ada outline. Tidak ada tiga poin. Hanya satu kalimat dari seseorang yang baru saja mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus yang bangkit. Perbedaan antara ayat 2 dan ayat 18 bukan tentang kecerdasan Maria. Bukan tentang persiapannya. Perbedaannya adalah satu hal: dia sudah bertemu Yesus sendiri.
Kita sudah melihat batu yang sudah disingkirkan—penghalang apa pun yang kamu pikir menghalangi kita dari Allah sudah tidak ada. Tapi kita harus memilih untuk melangkah.
Kita sudah melihat kain yang teratur—di tengah semua kekacauan yang ada di dalam dan di luar hidupmu hari ini, Allah tidak kehilangan kendali sedetik pun. Dia masih Tuhan, dan Raja Damai.
Kita sudah melihat saksi yang dipilih—bukan karena lolos kualifikasi, bukan karena kuat, tapi karena hadir dan tinggal tetap. Dan dari perjumpaannya, lahirlah kesaksian pertama kebangkitan.
Pertanyaannya:
- Apakah kamu bisa pulang hari ini dan berkata kepada seseorang: "Aku telah melihat Tuhan"?
- Bukan 'aku tahu tentang Tuhan,' bukan 'aku sudah ke gereja,' tapi 'aku telah melihat Tuhan.'
- Di manapun Tuhan menempatkan kita, “Aku telah melihat Tuhan”?
Kabar baik di Paskah ini adalah Dia telah menyingkirkan semua penghalang, Dia tetap pegang kendali di tengah badai kehidupan, Dia rindu untuk kita menjadi saksi-saksi-Nya.
Tuhan Yesus Memberkati
Kolekte
BCA Cab. Menara Ancol
ac 635.100.0101
an. GBI PRJ
Perpuluhan
BCA Cab. Menara Ancol
ac. 635.100.0101
an. GBI PRJ
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.371.7878
an. GBI PRJ
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.327.7878
an. GBI PRJ
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.316.7878
an. GBI PRJ
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.9777.133
an. GBI PRJ Pluit
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.8777.122
an. GBI PRJ Pluit
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.522.3030
an. GBI PRJ Mandarin Service
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Pembangunan
BCA Cab Thamrin
ac. 206.977.7575
an. GBI House Of Christ Revival
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.577.7272
an. GBI House Of Christ Revival
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.331.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.331.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.378.7779
an. GBI Alam Sutera Mall
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.353.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.356.7779
an. GBI Alam Sutera Mall
Kolekte
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.384.8484
an. GBI Intercon
Perpuluhan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.384.8484
an. GBI Intercon
Buah Sulung
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.3800
an. GBI Intercon
Pembangunan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.5900
an. GBI Intercon
Diakonia
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.4300
an. GBI Intercon
Kolekte
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.377.7111
an. GBI St Moritz
Perpuluhan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.377.7111
an. GBI St Moritz
Buah Sulung
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.030.7001
an. GBI St Moritz
Pembangunan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.030.7001
an. GBI St Moritz
Diakonia
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.013.9400
an. GBI St Moritz



