
Pernahkah kita merasa sangat aman dan nyaman dengan posisi kita? Mungkin karena prestasi, kekayaan, relasi, atau mungkin "ketinggian" status sosial kita. Kita merasa seperti rajawali yang terbang tinggi, bahkan bersarang di antara bintang-bintang, jauh dari jangkauan masalah dan kritik.
Firman Tuhan hari ini dari Obaja 1:4 menegur dengan keras perasaan aman yang semu ini:
"Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, demikianlah firman TUHAN."
Ayat ini adalah peringatan keras terhadap keangkuhan dan rasa aman yang kita bangun sendiri. Sering kali, kita membangun "benteng" kita sendiri:
Namun, Firman Tuhan berkata dengan jelas: Allah menentang orang yang congkak (Yakobus 4:6). Tuhan tidak hanya pasif melihat keangkuhan kita. Ia sanggup dan pasti akan merendahkan orang yang meninggikan diri. Cara-Nya bisa melalui keadaan yang tak terduga, kegagalan relasi, atau kehancuran dari dalam.
Keangkuhan adalah tipu daya yang membunuh. Ia membuat kita berpikir kita tak tersentuh, padahal kita sedang menuju jurang kehancuran. Sebaliknya, Allah mengasihi orang yang rendah hati. Kerendahan hati bukan berarti kelemahan, melainkan pengakuan bahwa kita sepenuhnya bergantung kepada-Nya. Ini adalah fondasi yang kokoh karena kita bersandar pada Allah yang tidak pernah goyah.
Adakah "benteng keangkuhan" dalam hidup kita saat ini? Apakah kita merasa lebih hebat, lebih pintar, atau lebih aman dari orang lain karena sesuatu yang kita miliki? Maukah hari ini kita merendahkan hati di hadapan Tuhan, mengakui keterbatasan, dan kembali bersandar penuh hanya kepada-Nya? Mari merendahkan hati di hadapan-Nya, karena di situlah kita akan menemukan kasih karunia dan kekuatan yang sejati.
~ Yuliana Sondakh