
Meneruskan renungan kita yang kemarin, hari ini kita akan membaca tentang karakter apa saja yang diperlukan agar kita dapat melakukan Amanat Agung, seperti yang disampaikan oleh Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo.
Kita perlu memiliki sifat-sifat atau karakter sebagai murid-murid Kristus, yaitu empat karakter berikut ini:
Matius 18:3-4, "Lalu berkata: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.'
Anak kecil biasanya suka menangis, sangat bergantung dan percaya kepada orangtuanya, dan tidak suka berbohong. Kalau kita mau merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, maka kita akan menjadi yang terbesar dalam kerajaan surga.
Kita harus bergantung dan percaya kepada Tuhan, bukan kepada yang lain-lain seperti strategi manusia. Kita juga tidak boleh berbohong sebab orang yang suka berbohong, maka bapanya adalah Iblis! Jadi, gereja harus rendah hati, bergantung, peka dan percaya pada pimpinan Tuhan.
2 Timotius 2:4, "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya."
Bukan berarti kita tidak boleh bekerja atau berkeluarga, melainkan hendaknya masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari jangan sampai menghambat fokus panggilan utama kita sebagai murid untuk menyelesaikan Amanat Agung. Dengan demikian, kita akan berkenan kepada Komandan kita, Tuhan Yesus Kristus.
Dalam Tahun Amanat Agung ini, Iblis akan makin keras berusaha untuk mengalihkan, mendistraksi perhatian kita dalam menyelesaikan Amanat Agung. Karena itu, hati-hatilah jangan sampai teralihkan oleh keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.
Selain itu, hari-hari ini banyak anak-anak Tuhan dan para pemimpin yang "dilemahkan" oleh Tuhan, seperti yang juga dialami oleh rasul Paulus, dan ini semua diizinkan oleh-Nya supaya tidak ada dari kita yang meninggikan diri. Sebab, Tuhan sendiri berkata, bahwa dalam kelemahan kitalah kuasa-Nya menjadi sempurna. Kalau kita mau dipakai Tuhan lebih lagi, maka siaplah untuk dilemahkan.
1 Korintus 9:26–27, "Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak."
Itulah sebabnya dalam perlombaan rohani ini saya berlari sekuat tenaga dengan tujuan yang pasti. Atau ibarat pertandingan tinju, saya tidak memukul dengan asal-asalan tanpa sasaran. Seperti olahragawan, saya melatih diri dengan keras untuk dapat menguasai tubuh dan pikiran, agar jangan sampai saya sendiri gagal setelah mengajak orang-orang lain masuk dalam perlombaan rohani ini. (TSI)
Jadi, saya lari menuju sasaran dengan tujuan yang pasti. Saya berjuang untuk menang. Saya tidak berlaku seperti seorang petinju yang memukul-mukul angin atau berayal-ayal. Seperti seorang atlet saya menggembleng tubuh saya, melatihnya melakukan hal-hal yang harus dilakukan dan bukan hal-hal yang dikehendakinya. Sebab, kalau tidak, saya takut kalau-kalau setelah mempersiapkan orang-orang lain untuk perlombaan, saya sendiri dinyatakan tidak memenuhi syarat, lalu ditolak. (FAYH)
Untuk menyelesaikan Amanat Agung tidak mudah, melatih tubuh dan menguasai diri itu perlu pengorbanan, namun hal ini perlu kita lakukan supaya seperti yang rasul Paulus katakan, bahwa supaya sesudah kita memberitakan Injil kepada orang lain, jangan kita sendiri ditolak.
2 Timotius 2:6, "Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya."
Untuk menyelesaikan amanat Agung diperlukan seperti karakter seorang petani. Alkitab menggambarkan sosok petani yang sabar, tekun, dan setia menabur. Petani tahu bahwa hasil tidak instan, melainkan dengan tekun ia tetap menabur, menyiram, menunggu, serta memelihara sampai tumbuh hasilnya.
Demikian juga dengan penyelesaian Amanat Agung, hasilnya tidak instan, sebab ini bukan pekerjaan satu hari saja, melainkan kita mesti menabur setiap hari, melalui menabur penginjilan lewat hubungan pribadi; menabur kesaksian lewat pekerjaan atau profesi; menabur tenaga dan waktu untuk melakukan pemuridan; menabur kasih untuk meringankan beban penderitaan orang lain; menabur doa tanpa henti; menabur apa pun yang diperlukan untuk mendirikan gereja-gereja yang baru. Semua orang yang menabur, pasti akan menuai!
Selamat menjalani Tahun Amanat Agung bersama Tuhan Yesus.
~ FG