
Matius 7:24 (TSI), "Oleh karena itu, setiap orang yang mendengar ajaran-Ku dan melakukannya ibarat orang bijak yang membangun rumah di atas batu yang padat dan sangat besar sebagai fondasinya."
So everyone who hears these words of Mine and acts upon them [obeying them] will be like a sensible (prudent, practical, wise) man who built his house upon the rock. (AMP)
These words I speak to you are not incidental additions to your life, homeowner improvements to your standard of living. They are foundational words, words to build a life on. If you work these words into your life, you are like a smart carpenter who built his house on solid rock. (MSG)
Ada sebuah hal menarik dari dongeng The Three Little Pigs. Kebanyakan dari kita mengingat cerita itu sebagai kisah tentang serigala jahat yang meniup rumah-rumah hingga roboh. Padahal jika dipikirkan lagi, serigala hanya muncul di bagian akhir cerita. Tokoh utamanya justru tiga anak babi yang mengambil tiga keputusan berbeda. Yang pertama memilih cara paling cepat dan membangun rumah dari jerami. Yang kedua sedikit lebih rajin dan memakai kayu. Hanya yang ketiga rela menghabiskan waktu lebih lama untuk menyusun batu bata, satu demi satu, sementara saudara-saudaranya sudah menikmati hidup. Ketika serigala akhirnya datang, ia sebenarnya tidak membuat rumah-rumah itu menjadi lemah. Ia hanya memperlihatkan kualitas keputusan yang sudah dibuat jauh sebelumnya.
Bukankah mungkin hidup sering berjalan seperti itu? Kita cenderung menyalahkan "badai masalah" yang datang, padahal bisa saja yang sedang diuji sebenarnya adalah fondasi yang telah kita bangun selama ini. Krisis keuangan tidak tiba-tiba membuat seseorang tamak. Jabatan tidak tiba-tiba membuat seseorang sombong. Popularitas tidak tiba-tiba membuat seseorang lupa diri. Semua itu hanya menyingkapkan apa yang selama ini mungkin tersimpan di dalam hati.
Karena itu, Tuhan Yesus menutup Khotbah di Bukit dengan sebuah perumpamaan yang sangat mirip. Ada dua orang yang sama-sama membangun rumah. Dari luar, mungkin terlihat tidak jauh berbeda. Keduanya menghadapi hujan, banjir, dan angin yang sama. Namun, hanya satu rumah yang tetap berdiri, sebab dibangun di atas batu. Yesus tidak mengatakan bahwa orang yang mengikuti-Nya akan bebas dari badai. Sebaliknya, Ia mengatakan bahwa badai pasti datang. Yang menentukan bukan besarnya badai, melainkan kuatnya fondasi.
Masalahnya, dunia terus membisikkan alternatif yang lebih menarik: ambil jalan pintas. Tidak perlu sabar membangun karakter, yang penting cepat terkenal. Tidak perlu setia dalam perkara kecil, yang penting hasilnya besar. Tidak perlu melalui proses, yang penting segera sampai tujuan. Namun, sering kali juga jalan pintas membawa kita menjauh dari kehendak Tuhan.
Amsal 14:12, "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut."
Jalan pintas hampir selalu tampak masuk akal pada awalnya. Tampak menghemat waktu, tenaga, bahkan tanpa penderitaan. Namun mungkin juga memangkas hal-hal baik yang justru sedang Tuhan bentuk dalam diri kita: ketekunan, kesabaran, integritas, dan karakter.
Mungkin hari ini kita sedang merasa tertinggal karena masih membangun "rumah bata", sementara orang lain sudah tampak menikmati hasilnya. Jangan berkecil hati. Tuhan tidak pernah terburu-buru membentuk anak-anak-Nya. Ia lebih tertarik membangun karakter yang bertahan puluhan tahun daripada sekadar kesuksesan yang meledak dalam semalam.
Karena pada akhirnya, masalah bukan musuh kita. Sering kali badai hanyalah cara Tuhan memperlihatkan apa yang selama ini sedang kita bangun.
"God is far more interested in your character than your comfort." (Rick Warren)
~ JP