
Pernah menyaksikan sebuah film 'A Man Called Otto'?
Film tersebut awalnya bercerita tentang seorang senior yang kerjaannya sering kali menggerutu setiap hari, atas berbagai hal. Kucing. Tetangga. Dan lainnya. Ia pun beberapa kali berencana untuk mengakhiri nyawanya sendiri, namun selalu saja sepertinya ada hal ataupun keadaan yang "kebetulan" menggagalkannya.
Terutama oleh karena adanya tujuan—baik melalui orang-orang yang sepertinya menjadi gangguan baginya maupun keadaan-keadaan tertentu yang memaksanya untuk tetap melanjutkan hidup—lambat laun Otto menjadi bersemangat menjalani hidupnya, kembali tersenyum, dan menemukan makna hidup yang lebih baik.
Apa pun penyebab, alasan, ataupun latar belakang yang kerap menjadi pendorong, seyogianya seseorang tidak perlu terus-menerus bersungut-sungut, mengeluh, berkeluh kesah, mencari-cari hal-hal yang dapat dibuat kusut di dalam pikirannya.
Saya jadi ingat masa ketika orang-orang Israel bersungut-sungut terhadap Tuhan, sekalipun Ia telah menyediakan apa yang mereka perlukan setiap hari, membebaskan mereka dari perbudakan yang menyengsarakan, serta mengalami melihat sendiri secara langsung mukjizat-mukjizat yang besar dari Tuhan.
Bilangan 11:5-6 (FAYH), "Lalu orang-orang dari Mesir yang ikut dengan mereka mulai merindukan benda-benda kenikmatan di Mesir. Hal ini menambah ketidakpuasan orang-orang Israel dan mereka mulai menangis, 'Ah, manakah daging untuk kita! Manakah ikan enak yang kita nikmati di Mesir, dan ketimun yang sedap dan segar, semangka, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih! Lihatlah, sekarang kekuatan kita sudah habis karena hari lepas hari kita hanya menghadapi manna saja!'"
Kita masih ingat betapa nikmatnya ikan yang dulu kita makan dengan gratis di Mesir, juga mentimun, melon, bawang daun, bawang merah, dan bawang putih. Tetapi sekarang, yang kita punya hanya manna ini saja! Kita sudah muak memakannya! (TSI)
Sweet is the memory of the fish we had in Egypt for nothing, and the fruit and green plants of every sort, sharp and pleasing to the taste: But now our soul is wasted away; there is nothing at all: we have nothing but this manna before our eyes. (BBE)
Andai mereka tak bersungut. Andai mereka tak seperti awal-awalnya Otto.
Mereka cepat melupakan perbuatan-perbuatan besar Allah bagi mereka, tidak bersedia mempercayai Allah dan menyerahkan hidup serta masa depan mereka kepada-Nya.
Namun, jika kita boleh bercermin, bagaimana dengan kita sendiri setiap hari? Acapkah kita juga seperti itu, bersungut, mengeluh, mencari-cari sisi negatif sepanjang waktu, alih-alih memilih untuk mengucap syukur serta menyadari apa yang masih baik yang kita miliki?
Janganlah berhenti bersyukur—melainkan teruslah mengingat—kebaikan, tuntunan,kemurahan, pertolongan, kasih setia dan berkat Tuhan dalam hidup kita. Supaya kita tidak selalu menggerutu.
"The first law of life is this: Don't sweat the small stuff. Law number two is this: It's almost all small stuff." (Rick Warren)
~ FG