
Mazmur 47:7, "Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah!"
Hari ini firman Tuhan mengajak kita dengan penuh semangat dan pengulangan—"bermazmurlah"—sebagai seruan yang berirama. Kata "bermazmur" dalam bahasa aslinya mengandung makna yang kaya: memuji dengan musik, menyanyikan pujian, merayakan karya Tuhan dengan sukacita yang meluap. Pengulangan empat kali dalam satu ayat ini bukan sekadar gaya bahasa, tetapi penekanan ilahi tentang pentingnya pujian dalam kehidupan orang percaya.
Ketika pemazmur menyerukan pujian bagi "Raja kita," ia mengingatkan kita bahwa Tuhan yang kita puji adalah Penguasa alam semesta yang berdaulat. Dalam budaya timur dekat kuno, sorak-sorai dan pujian kepada raja adalah pengakuan akan kekuasaan dan perlindungannya. Demikian pula, ketika kita memuji Tuhan senantiasa, kita sedang mengakui kedaulatan-Nya atas hidup kita dan membentengi diri dalam perlindungan ilahi.
Pujian bukan sekadar respons emosional, tetapi senjata rohani yang mengandung kuasa transformatif berupa:
Pujian mengubah perspektif kita. Seperti Paulus dan Silas yang bernyanyi dalam penjara (Kisah Para Rasul 16:25), pujian melepaskan sukacita surgawi yang melampaui keadaan. Sukacita Tuhan adalah kekuatan kita (Nehemia 8:10).
Dalam pujian, hadirat Tuhan turun dengan nyata. Mazmur 147:3 mengingatkan bahwa Tuhan menyembuhkan orang-orang yang patah hati. Pujian menciptakan atmosfer di mana kesembuhan fisik, emosional, dan rohani dapat dialami.
Sejarah Israel menunjukkan bagaimana pujian mendahului kemenangan (2 Tawarikh 20:21-22). Ketika kita memuji sebelum melihat terobosan, kita menyatakan iman bahwa Tuhan sudah dan sanggup memberikan kemenangan.
Pujian mematahkan belenggu. Seperti rantai yang terlepas ketika Paulus dan Silas memuji, pujian memiliki kuasa untuk melepaskan kita dari berbagai ikatan—dosa, kepahitan, ketakutan, dan tekanan hidup.
Mazmur 67:6-7 menghubungkan pujian dengan berkat: "Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita." Pujian membuka hati kita untuk menerima dan menyalurkan berkat Tuhan.
Perhatikan bahwa pemazmur tidak berkata "bermazmurlah ketika semuanya baik," tetapi mengajak kita menjadikan pujian sebagai gaya hidup. Pujian di saat senang adalah perayaan, pujian di saat susah adalah deklarasi iman, dan pujian di saat biasa-biasa saja adalah penyembahan yang tulus.
Renungkan hari ini, bagaimana kita dapat menjadikan pujian sebagai respons pertama dalam setiap situasi? Area mana yang membutuhkan kuasa Tuhan melalui pujian dalam hidup kita?
Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita, pujian bukan hanya apa yang kita ucapkan, tetapi benteng yang melindungi, senjata yang memperjuangkan, dan jalan yang menghubungkan kita dengan Sumber segala yang baik. Karena itu, bermazmurlah, ya bermazmurlah!
Nyanyikanlah puji-pujianmu bagi Allah kita, Raja kita. Ya, bernyanyilah bagi Raja kita, Raja seluruh bumi. Nyanyikanlah puji-pujianmu dengan penuh perasaan! (Mazmur 47:7 FAYH)
~ FG