📌 Ringkasan sebelumnya : Zakharia 2
Orang Yehuda sedang bergumul tentang rencana membangun kembali Bait Alah dan tembok Yerusalem. Pada saat itulah Nabi Zakharia mendapat penglihatan mengenai orang yang membawa tali pengukur yang hendak mengukur panjang dan lebar Yerusalem.
Sebenarnya, apa yang ingin dilakukan orang itu? Buat apa dia mengukur keliling Yerusalem? Apakah dia hendak membangun sesuatu di atas tanah Israel, sehingga perlu mengukurnya?
Kejutan pun muncul. Malaikat menyerukan bahwa Yerusalem akan tetap seperti padang terbuka karena banyaknya manusia dan hewan di sana. Ini gambaran betapa Yerusalem terbuka begitu luas, sehingga manusia tidak akan sanggup membangun tembok untuk mengitarinya. Dengan kata lain, tali pengukur itu sudah tidak mampu lagi untuk mengukur seluruh Yerusalem. Tali ukur itu pun tidak mampu lagi menghitung luas Bait Allah yang sedang dibangun.
Jika tembok tidak bisa dibangun, lalu bagaimana melindungi kota yang sangat luas?
Jawabannya, Tuhan sendirilah yang akan menjadi bentengnya. Bahkan, Tuhan menyebutkan bahwa Dia akan menjadi tembok berapi di sekeliling kota. Itu berarti lebih kuat daripada tembok biasa yang dibangun oleh manusia.
Tuhan ingin mengatakan bahwa segala reka daya manusia bukanlah perlindungan yang kokoh. Apakah itu tembok yang rapat atau benteng yang kokoh, semua itu tidak sebanding dengan penjagaan Tuhan. Hanya di dalam Tuhan manusia menemukan perlindungan sejati.
📖 Pengantar Zakharia 3
Seseorang, bisa saja, merasa dirinya lebih baik daripada orang lain dalam melayani Allah. Orang demikian, sebaiknya, harus merenungkan kembali pandangannya itu. Allah, yang kudus, tidak akan bisa dilayani oleh manusia pendosa. Inilah makna penglihatan keempat yang didapatkan Zakharia