📌 Ringkasan sebelumnya : Habakuk 3
Habakuk menutup nubuatnya dengan doa. Ada catatan kecil bahwa doanya disampaikan dengan nada ratapan. Sang Nabi memang meratap. Habakuk membuka doanya dengan pengakuan bahwa dia merasa gentar di hadapan Allah mengingat apa yang telah Allah lakukan atas bangsanya. Habakuk menyadari bahwa penjajahan Babel atas Israel merupakan hukuman Tuhan kejahatan Israel. Segala tindak kejahatan Israel membuktikan bahwa mereka tak lagi memerankan diri sebagai hamba Allah.
Namun, dalam ketakutan itu pun Habakuk merasa perlu menyisipkan permohonan: "dalam murka ingatlah akan kasih sayang". Dalam sisipan ini tampaklah Habakuk sungguh percaya bahwa belas kasihan Allah lebih besar dari murka-Nya. Habakuk percaya bahwa Allah akan surut murkanya. Dan itu cuma soal waktu.
Mengapa Allah akan melepaskan Israel dari cengkeraman bangsa-bangsa? Habakuk percaya bahwa hukuman Allah tidak akan membuat bangsa Israel punah. Habakuk percaya bahwa kasih Allah yang telah memilih Israel tidak akan pernah pudar; dan inilah anugerah itu. Sebagaimana Allah telah membebaskan Israel dari Mesir, Dia sendirilah yang akan melepaskan Israel dari bangsa-bangsa lain sehingga dalam doanya Habakuk berketetapan: "dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami".
Inilah iman Habakuk, meski segalanya tampak buruk, yang digambarkan dengan kegagalan panen dan kematian ternak, Habakuk menetapkan hati tetap percaya kepada Allah yang tidak akan ingkar janji membebaskan umat-Nya.
📖 Pengantar Zefanya 1
Mengapa Tuhan menjatuhkan hukuman kepada umat-Nya? Karena umat berpaling dari Allah! Mereka meninggalkan Dia! Ibadah kepada Allah diganti dengan penyembahan kepada ilah atau dewa bangsa-bangsa yang tinggal di sekitar mereka. Umat juga mengabaikan taurat Tuhan. Tak heran banyak penyimpangan dalam berbagai aspek kehidupan. Mereka memang telah berbalik dari Allah