📌 Ringkasan sebelumnya : Nahum 3
Orang-orang Niniwe menjalani pertobatan palsu. Mereka kembali hidup dalam kenajisan. Maka, firman Allah yang datang kepada mereka adalah ucapan celaka. Nabi Nahum meratapi kehancuran yang akan terjadi pada kota Niniwe karena penduduknya hidup dalam kenajisan. Tuhan semesta alam sendiri akan mendatangkan hukuman yang memalukan. Kehancuran mereka menjadi peringatan bagi bangsa lain akan perlunya pertobatan yang sejati. Nabi Nahum mengingatkan Tebe. Kota ini lebih besar dari Niniwe tetapi dihancurkan karena perbuatan dosanya. Orang-orang Niniwe tidak akan bertahan menghadapi penghabisan Allah; kematian harus diterima Niniwe.
Pertobatan akan membangkitkan penyesalan atas hal-hal bodoh, jahat, dan salah yang telah dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan. Pertobatan dapat terjadi ketika diawali dengan pengakuan bahwa pelakunya telah melakukan hal yang tidak sepatutnya. Hidup dalam pertobatan membutuhkan komitmen yang sungguh-sungguh, dengan meninggalkan perbuatan yang tidak benar untuk seterusnya.
Orang yang bertobat akan mengubah perilaku hidupnya dan melakukan kebenaran sesuai dengan kehendak Allah. Sebaliknya, orang yang melakukan pertobatan palsu akan mengalami kehancuran yang lebih besar lagi. Tidak ada yang dapat menghindari hukuman Allah. Manusia mungkin memandang rendah kuasa Allah, tetapi tidak akan ada yang bisa menolong mereka dari murka Allah.
📖 Pengantar Habakuk 1
Penderitaan adalah bagian realita kehidupan yang tak terhindarkan. Kita sering bertanya "Mengapa Tuhan izinkan hal ini terjadi?" atau, "Bukankah, Tuhan, Engkau berdaulat atas hidup ini?" Habakuk mempertanyakan hal yang sama: "Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: 'Penindasan!' tetapi tidak Kautolong?” Pertanyaan ini mengindikasikan bahwa peristiwa penderitaan tersebut terjadi dalam jangka waktu yang tidak sebentar.