
1 Korintus 2:14, (TB2), "Tetapi manusia duniawi tidak menerima hal-hal yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya suatu kebodohan dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal-hal itu hanya dapat dinilai secara rohani."
Ada satu pesan dari seorang hamba Tuhan, bernama Ps. Johnny Chang, yang mungkin belakangan ini sempat banyak diperdebatkan, tetapi justru juga bisa terasa sangat relevan untuk masa ini.
Pesannya sederhana namun menantang, bahwa membaca Alkitab bukan pertama-tama dengan sikap ingin memahami, melainkan dengan sikap berserah. Bagi sebagian orang, ini terdengar aneh. Bukankah kita membaca supaya mengerti? Bukankah firman Tuhan adalah hikmat? Dan bukankah kita dipanggil untuk belajar?
Semua itu benar. Namun ada satu kenyataan penting yang sering kita abaikan: hikmat Tuhan tidak bisa ditembus hanya dengan akal manusia. Jika Tuhan sendiri tidak membuka mata hati kita, sehebat apa pun kemampuan kita menganalisis ayat, kita hanya akan menyentuh permukaannya, bukan intinya.
Pdt. Robertus Purwadi pernah mengingatkan melalui pembelajaran Bible Study:
"Betapa agung dan mulia setiap perkataan Allah yang kita pelajari, kita mengerti, kita percayai, dan kita lakukan. Itulah sebabnya, ya, dikatakan kita harus mencarinya seperti kita mencari harta yang tak ternilai harganya, ya. Kita baru mendapatkan hikmat apabila kita memiliki kerendahan hati. Nah, kuncinya ini, saudara: dengan rendah hati. Orang yang mau belajar firman Tuhan, modal utamanya itu rendah hati dulu. Sebab orang rendah hati itu ciri-cirinya apa? Dia menyadari akan kekosongannya, dia menyadari akan kebodohannya, dia menyadari akan ketidakmengertiannya. Maka dengan rela dia mau diisi dengan kebenaran-kebenaran ini."
Paulus pun menuliskannya dengan sangat jelas bahwa manusia duniawi tidak menerima hal-hal yang berasal dari Roh Allah karena semuanya itu hanya dapat dinilai secara rohani. Dengan kata lain, Firman Tuhan bukan sekadar bahan pelajaran, melainkan pewahyuan. Dan wahyu tidak dipahami dengan memaksa pikiran, tetapi diterima dengan hati yang tunduk.
Pemazmur mengungkapkan sikap ini dengan sangat indah ketika ia berdoa, "Bukalah mataku, supaya aku memandang keajaiban dari Taurat-Mu" (Mazmur 119:18, TB2). Ia tidak berkata, "Ajar aku supaya lebih pintar," melainkan memohon agar matanya dibukakan. Karena rahasia Firman bukan terletak pada usaha manusia, tetapi pada pembukaan mata rohani oleh Tuhan sendiri.
Yesus menegaskan prinsip yang sama ketika Ia berkata tentang Roh Kudus, "Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu" (Yohanes 14:26, TB2). Kita belajar, tetapi Roh Kuduslah yang mengajar. Kita membaca, tetapi Roh Kuduslah yang menerangi. Kita membuka Alkitab, tetapi Roh Kuduslah yang membuka hati. Di sinilah letak pesan yang sering terlewatkan: banyak orang berhenti membaca Firman karena merasa tidak mengerti, padahal sejak awal Firman memang tidak dimaksudkan untuk ditaklukkan oleh kecerdasan, melainkan diterima oleh kerendahan hati.
Firman Tuhan tidak mencari pembaca yang paling pintar, tetapi hati yang mau diajar. Ia tidak menuntut penguasaan, melainkan penyerahan. Karena itu, mungkin undangan Tuhan hari ini sangat sederhana: mulailah kembali membaca Alkitab bukan untuk memahami segalanya, tetapi untuk menerima apa yang Tuhan mau berikan.
Datanglah dengan doa yang jujur, "Tuhan, aku tidak mampu membuka hikmat-Mu. Bukalah hatiku. Taruh pengertian-Mu, bukan pikiranku." Dan sering kali, di situlah kata-kata yang sudah lama kita baca tiba-tiba menjadi hidup, berbicara, dan menjangkau bagian hati yang paling kita butuhkan.
Bangunkan kembali kerinduan membaca Alkitab dengan motivasi yang benar: menerima, bukan menguasai; berserah, bukan mengandalkan pengertian sendiri.
Jadi, apa tujuan kita membaca firman-Nya hari ini?
"It is Christ Himself, not the Bible, who is the true word of God. The Bible, read in the right spirit and with the guidance of good teachers will bring us to Him." (C. S. Lewis)
~ JP