
J. I. Packer, hamba Tuhan, yang setia itu, pernah merenungkan dan mengajukan sebuah pertanyaan yang mungkin berlaku bagi kita semua, yaitu:
Apakah motivasi utama kita, entah di dalam segala situasi yang baik maupun buruk, adalah untuk menyenangkan hati Tuhan Yesus di sepanjang hidup kita?
Seperti Paulus, setelah pertobatannya.
2 Korintus 5:9 (BIS), "Karena itu kami berusaha sungguh-sungguh untuk menyenangkan hati-Nya, baik sewaktu kami masih berada di rumah kami di sini, ataupun di sana."
Jadi, kami selalu bertujuan menyenangkan Dia, apa pun yang kami lakukan, baik di dalam tubuh yang fana di dunia ini, maupun di dalam tubuh surgawi bersama-sama dengan Dia di surga. (FAYH)
Therefore, whether we are at home [on earth away from Him] or away from home [and with Him], we are constantly ambitious and strive earnestly to be pleasing to Him. (AMP)
But neither exile nor homecoming is the main thing. Cheerfully pleasing God is the main thing, and that's what we aim to do, regardless of our conditions. (MSG)
Atau, apakah kita sering kali masih melakukan hal-hal yang tidak menyukakan hati Tuhan? Dan jika kita saja begitu rindu untuk ingin menyenangkan hati orang-orang yang kita kasihi—istri, suami, anak-anak, orangtua—bahkan terhadap diri sendiri, apakah kita juga tidak lebih rindu melakukannya bagi-Nya?
J. I. Packer menerangkan betapa untuk menyenangkan hati Tuhan itu memerlukan upaya yang tidak main-main sesungguhnya. Mengapa demikian, ia menjelaskan bahwa,
"It requires sustained love to Jesus, expressed in adoration of him for all that he is in himself and thanksgiving to him for all that he has done, for the world of lost humanity in general and for us sinners in particular. It requires sustained obedience to all his commands, up to the limits of our understanding of them. It requires constant watchfulness against temptations to self-indulgence, and constant battling against sloth, laziness, and indifference to spiritual issues. It requires respectful and caring treatment of all others as persons created to bear the image of God, and self-denial at all points where self-absorption would conflict with and damp down active neighbor-love. It requires daily holiness, from morning to night, a daily quest for opportunities to bear witness to Christ, and daily prayer for the furthering of Christ's kingdom and the blessing of needy people."
Atau, membutuhkan kasih yang terus-menerus kepada Yesus, yang diungkapkan dalam penyembahan kepada-Nya atas segala keberadaan-Nya dan ucapan syukur atas segala perbuatan-Nya baik bagi dunia umat manusia yang tersesat pada umumnya maupun bagi kita orang berdosa pada khususnya. Membutuhkan ketaatan yang konstan terhadap perintah-Nya, mungkin kadang hingga batas pemahaman kita. Membutuhkan kewaspadaan yang siaga terhadap godaan memuaskan nafsu diri sendiri, rasa kemalasan, kelalaian, ataupun ketidakpedulian terhadap perkara-perkara rohani. Membutuhkan perlakuan penuh hormat dan perhatian terhadap semua orang sebagai pribadi yang diciptakan menurut gambar Allah, dan penyangkalan diri di semua titik di mana keegoisan akan bertentangan dengan—dan yang dapat meredam kasih kita kepada—sesama manusia. Membutuhkan menjaga kekudusan setiap hari, pagi hingga malam, dan menggunakan kesempatan apa pun yang ada untuk menjadi kesaksian tentang Kristus, berdoa setiap saat untuk perlebaran kerajaan Allah, serta menjadi berkat bagi banyak orang yang membutuhkan.
Jadi, sudah siapkah kita melakukannya?
Dan apa yang akan kita kerjakan hari ini untuk menyenangkan hati-Nya?
~ FG