
Beberapa waktu yang lalu, ribuan mahasiswa di negara India memprotes dugaan kebocoran ujian nasional. Bagi jutaan anak muda, satu ujian dapat menentukan masa depan mereka. Ketika soal bocor kepada sebagian orang, seluruh sistem terasa tidak adil. Mereka yang telah belajar sekian lama dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya merasa dikhianati.
Protes turun ke jalan raya pun terjadi karena yang dipertaruhkan bukan sekadar nilai, melainkan masa depan.
Di balik berita itu, saya bertanya-tanya, mengapa kebocoran soal selalu memiliki "pasar"? Karena jauh di dalam hati manusia, ada keinginan untuk memperoleh hasil tanpa melewati proses. Kita ingin mengetahui jawabannya lebih dulu. Kita ingin jalan pintas menuju keberhasilan.
Keinginan seperti itu ternyata bukan hanya terjadi di ruang ujian.
Yesus pernah menceritakan seorang kaya yang setelah meninggal, berada dalam penderitaan. Dari tempat itu, ia memohon kepada Abraham agar Lazarus diutus kembali ke bumi untuk memperingatkan kelima saudaranya supaya mereka tidak mengalami nasib yang sama. Permintaan itu terdengar masuk akal. Seolah, kalau saja mereka mendapat bocoran dari orang yang sudah mati, pasti mereka akan bertobat.
Tetapi jawaban Abraham sangat mengejutkan, "Mereka mempunyai Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian mereka" (Lukas 16:29, TB2).
Orang kaya yang sudah almarhum itu masih mencoba berargumen, "Tidak, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat."
Lalu Abraham menjawab, "Jika mereka tidak mendengarkan Musa dan para nabi, mereka juga tidak akan mau diyakinkan sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati" (Lukas 16:31, TB2).
Perhatikan apa yang Yesus sedang ajarkan. Masalahnya bukan kurangnya informasi ataupun peringatan. Masalahnya adalah hati yang tidak mau mendengarkan ataupun masalah ketaatan.
Kita mungkin sering berpikir, "Kalau saja Tuhan menunjukkan mukjizat yang lebih besar... kalau ada orang mati hidup lagi... kalau ada tanda dari langit... baru aku sungguh-sungguh percaya."
Padahal, kalau hati sudah mengeras menolak firman, mukjizat terbesar sekalipun tidak akan mengubahnya. Yesus Kristus sendiri telah bangkit dari kematian, tetapi masih juga banyak orang yang tetap tidak percaya. Bukan kekurangan bukti. Melainkan sekadar menolak Pribadi yang menjadi bukti itu.
Kita juga kadang mungkin mencari-cari "bocoran" tentang masa depan, siapa jodoh kita, kapan sukses, bagaimana supaya doa pasti dijawab, apa rahasia hidup yang berhasil, dan sebagainya. Kita berharap Tuhan memberi akses khusus pada sesuatu yang belum waktunya kita ketahui.
Padahal, Tuhan sudah memberikan yang paling kita butuhkan, yaitu firman-Nya.
Namun, Alkitab bukan sekadar kumpulan bocoran tentang masa depan. Alkitab adalah undangan untuk mengenal Dia yang memegang masa depan. Sekali lagi diingatkan, iman tidak membutuhkan bocoran tentang masa depan. Iman belajar mempercayai Pribadi yang sudah memegang masa depan.
Jadi, mungkin pertanyaan kita bukan lagi, "Tuhan, bisakah Engkau memberi bocoran?" tetapi, "Tuhan, sudahkah aku menaati apa yang Engkau nyatakan?" Sebab, sering kali kita pun meminta terang untuk langkah kesepuluh, padahal kita belum mau melangkah di langkah pertama.
Mazmur 119:105 (TB2), "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."
Pelita pada zaman itu tidak menerangi satu kilometer ke depan; hanya cukup untuk satu-dua langkah berikutnya. Dan terkadang seperti itulah cara Tuhan dalam membimbing kita umat-Nya, bukan dengan bocoran soal-soal dalam seluruh perjalanan hidup kita, melainkan lebih dengan memberikan terang yang cukup untuk langkah kita di hari ini.
Mulailah melangkah setapak demi setapak bersama Tuhan setiap hari.
~ JP