
Aleksander Agung pernah berkata, "Aku tidak takut kepada pasukan singa yang dipimpin seekor domba. Aku takut kepada pasukan domba yang dipimpin seekor singa."
Kalimat ini telah dikutip selama lebih dari dua ribu tahun. Pesannya sederhana: kualitas seorang pemimpin sering kali menentukan arah seluruh kelompok. Seorang pemimpin yang berani dapat membangkitkan keberanian orang-orang biasa, sedangkan pemimpin yang penakut dapat melumpuhkan orang-orang yang sebenarnya kuat.
Alkitab pun menunjukkan betapa besar pengaruh seorang pemimpin. Ketika Musa mengangkat tangannya, bangsa Israel memperoleh kemenangan (Kel. 17:11). Ketika Nehemia memimpin pembangunan tembok Yerusalem, rakyat yang sebelumnya putus asa, kembali memiliki semangat (Neh. 2:17-18). Sebaliknya, ketika para imam dan pemimpin Israel menyimpang, seluruh bangsa ikut terseret menjauh dari Tuhan (Yes. 9:16).
Namun Yesus memperkenalkan model kepemimpinan yang benar-benar berbeda.
Yohanes 10:11 (TB2), "Aku adalah Gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya."
Raja-raja dunia memimpin dengan menunjukkan kekuatan mereka. Yesus memimpin dengan memperlihatkan kasih-Nya, kerendahhatian-Nya.
Aleksander Agung mungkin ingin menjadi seperti singa yang ditakuti. Yesus datang sebagai Gembala yang rela menyerahkan nyawa bagi domba-domba-Nya.
Ketika murid-murid-Nya berebut posisi tertinggi, Yesus berkata:
Matius 20:26 (TB2), "Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu."
Tetapi di antara kalian lain halnya. Siapa yang ingin menjadi pemimpin harus menjadi pelayan. (FAYH)
It's not going to be that way with you. Whoever wants to be great must become a servant. (MSG)
Di dunia, mungkin seorang pemimpin sering diukur dari banyaknya orang yang melayaninya. Di prinsip kerajaan Allah, pemimpin diukur dari seberapa banyak orang yang ia layani. Itulah sebabnya, Yesus tak hanya merekrut pengikut, melainkan membentuk pemimpin-pemimpin baru. Petrus yang pernah menyangkali-Nya tiga kali, dipulihkan dan diminta, "Gembalakanlah domba-domba-Ku" (Yoh. 21:15-17). Demikian pula Paulus, yang membimbing Timotius, lalu berkata agar apa yang telah diterimanya diteruskan lagi kepada orang-orang lain berikutnya yang dapat mengajar orang lain juga (2 Tim. 2:2).
Jadi, pemimpin yang sejati tidak sibuk mendirikan nama sendiri. Melainkan, ia rindu membangun orang lain, agar suatu hari mereka dapat memimpin dengan lebih baik lagi, bahkan jauh lebih daripada dirinya sendiri.
Mungkin itulah sebabnya kepemimpinan Yesus masih mengubah dunia setelah dua ribu tahun. Sementara, Alexander the Great meninggalkan kerajaan yang akhirnya terpecah. Yesus membentuk murid-murid yang terus memuridkan orang-orang di dunia hingga hari ini.
Bagaimana dengan setiap kita? Entah sebagai orangtua, guru, pemimpin pelayanan, atasan, atau kakak bagi adik-adik kita, sedang memimpin seseorang. Pertanyaannya, apakah orang-orang di sekitar kita semakin mengenal Kristus karena cara kita memimpin dan melayani?
Dunia mungkin memerlukan pemimpin yang berani seperti seekor singa, tetapi kerajaan Allah membutuhkan gembala-gembala yang memiliki hati seperti Kristus. Karena mungkin pada akhirnya, seorang pemimpin yang sejati tak hanya dikenal karena suaranya paling keras, melainkan oleh karena hidupnya membuat banyak orang lain semakin dekat kepada Sang Gembala Agung.
~ JP