
Kane Tanaka lahir pada tahun 1903, pada masa ketika manusia bahkan belum berhasil menerbangkan pesawat. Dia hidup melewati dua perang dunia, pandemi flu Spanyol 1918, lahirnya televisi, komputer, internet, hingga era wisata luar angkasa.
Ketika film Star Wars pertama kali tayang pada tahun 1977, ia sudah berusia 74 tahun.
Di usia lebih dari satu abad, ia bahkan masih menyaksikan dunia menghadapi pandemi COVID-19.
Kane Tanaka meninggal pada tahun 2022, pada usia 119 tahun—sebuah hidup yang hampir menyentuh tiga abad berbeda.
Ketika kita melihat fakta seperti ini, kita langsung sadar betapa banyak hal berubah dalam kehidupan manusia. Dunia yang dulu tidak mengenal pesawat, sekarang berbicara tentang perjalanan ke Mars. Teknologi yang dulu terasa mustahil, kini AI menjadi hal biasa. Generasi datang dan pergi. Peradaban berubah.
Namun, di tengah semua perubahan itu, ada satu hal yang tetap: hidup manusia tetaplah ada batasnya.
Alkitab mengatakan dengan jujur: "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap" (Mazmur 90:10, TB2).
Mazmur ini bukan ingin membuat kita takut, tetapi menolong kita melihat hidup dengan jernih. Bahkan hidup yang sangat panjang sekalipun, tetap hanya sebagian kecil dari sejarah yang jauh lebih besar. Jauh lebih besar.
Tetapi, Alkitab juga mengingatkan sesuatu yang sangat menghibur: ketika hidup manusia terbatas, kasih Tuhan tidak pernah terbatas.
Tuhan berkata: "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia, dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu" (Yesaya 46:4, TB2).
Ini luar biasa indah. Tuhan tidak hanya menyertai kita ketika kita kuat, muda, dan produktif. Ia berkata bahwa bahkan ketika rambut memutih dan tubuh melemah, Dia tetap memikul kita. Artinya, sepanjang hidup—dari lahir sampai akhir—Tuhan tidak pernah berhenti menyertai, mengasihi, memberkati kita.
Karena itu, Alkitab mengajarkan satu doa yang sangat penting: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana" (Mazmur 90:12, TB2).
Supaya kita makin sadar, menghitung hari bukan berarti menghitung mundur menuju akhir, melainkan menghargai setiap hari yang Tuhan beri, mensyukuri sebab masih ada di hidup ini.
Hidup yang bukan hanya tentang seberapa lama kita hidup, belum tentu juga selama Kane Tanaka, tetapi lebih pada bagaimana kita menjalani hari-hari yang masih ada—apakah dengan kasih, iman, dan kesetiaan kepada Tuhan.
Supercentenarian mungkin menyaksikan dunia berubah berkali-kali sepanjang hidupnya. Namun, ada satu hal yang lebih penting, bahwa dunia boleh saja berubah-ubah, generasi bisa saja berganti, teknologi dapat pula berkembang—tetapi Tuhan kita Yesus Kristus tetap sama. Dan di tangan-Nya yang sama itu, setiap hari hidup kita memiliki arti.
~ JP