
Efesus 5:25–26 (TB2), "Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya, untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman."
Beberapa hari yang lalu, saya menghadiri sebuah pemberkatan pernikahan. Seperti biasanya, pendeta membacakan bagian dari surat Paulus kepada jemaat di Efesus. Ayat itu begitu sering kita dengar sehingga mungkin kita merasa sudah memahami isinya. Namun, di tengah pembacaan itu, ada satu kalimat yang tiba-tiba menghentikan pikiran saya: "...Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman."
Mengapa Paulus berbicara tentang penyucian di tengah pembahasan mengenai pernikahan?
Bukankah seharusnya ia hanya berbicara tentang cinta, kesetiaan, atau kebahagiaan rumah tangga?
Paulus mengajak kita melihat bahwa pernikahan bukan sekadar tentang dua orang yang saling mencintai. Pernikahan adalah gambaran dari sesuatu yang jauh lebih besar: hubungan antara Kristus dengan jemaat-Nya.
Yang menarik, Kristus tidak menunggu jemaat menjadi kudus terlebih dahulu baru mengasihinya. Ia lebih dahulu mengasihi, lalu menyerahkan diri-Nya di kayu salib, dan melalui kasih itu Ia terus menyucikan umat-Nya.
Urutannya tidak terbalik. Bukan, "Jadilah suci, baru Aku mengasihimu." Melainkan, "Karena Aku mengasihimu, Aku akan membentuk dan menyucikanmu."
Kalimat "memandikannya dengan air dan firman" bukan terutama berbicara tentang air secara harfiah. Air adalah lambang pembersihan, sedangkan firman Allah adalah sarana yang dipakai Roh Kudus untuk terus membaharui hidup kita. Yesus sendiri berkata, "Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu" (Yohanes 15:3).
Artinya, setiap kali kita membuka Alkitab dengan hati yang mau diajar, Tuhan sedang mencuci "debu kehidupan" yang perlahan menempel dalam hati kita. Ia meluruskan cara berpikir kita, mengikis ego kita, menghibur jiwa kita, dan membentuk karakter kita sedikit demi sedikit agar semakin serupa dengan Dia.
Lalu apa artinya bagi seorang suami?
Paulus tidak berkata, "Carilah istri yang sempurna."
Ia berkata, "Kasihilah istrimu seperti Kristus mengasihi jemaat."
Artinya, seorang suami dipanggil menjadi pribadi yang kehadirannya membawa keluarganya semakin dekat kepada Tuhan. Kasihnya bukan sekadar memberi nafkah atau memenuhi kebutuhan rumah tangga, melainkan menciptakan suasana di mana firman Tuhan hidup, didengar, dan dihidupi. Demikian pula, seorang istri dipanggil untuk membangun keluarganya sehingga bersama-sama bertumbuh di dalam Tuhan.
Di sinilah saya tersadar. Selama ini kita mungkin sering menganggap hari pernikahan sebagai puncak sebuah kisah cinta. Padahal, menurut Paulus, pelaminan hanyalah garis awal. Yang Tuhan rindukan bukan sekadar pernikahan yang indah dalam foto-foto, tetapi perjalanan seumur hidup di mana dua orang saling menolong untuk semakin menyerupai Kristus.
Pelaminan mungkin berlangsung beberapa jam. Pernikahan mungkin berlangsung puluhan tahun. Dan proses penyucian berlangsung sepanjang hidup. Bukankah itu juga yang sedang Tuhan kerjakan atas kita? Ia tidak sedang menunggu kita menjadi sempurna. Ia sedang menyempurnakan kita, karena Ia telah lebih dahulu mengasihi kita.
Kasih-Nya tidak berhenti di kayu salib. Kasih-Nya terus bekerja setiap hari juga melalui firman-Nya, sampai suatu hari nanti kita berdiri di hadapan-Nya sebagai mempelai yang tanpa cacat cela atau kerut (Ef. 5:27). Bukan karena keberhasilan kita sendiri menyucikan diri, melainkan oleh karena kesetiaan Tuhan Yesus yang tidak pernah berhenti mengasihi, membentuk, serta menolong kita.
Sudahkah Saudara dan saya semakin menyerupai Dia?
~ JP