
Di media sosial, pernah diramaikan soal hal yang sebenarnya sangat sepele kelihatannya, yaitu mengenai cara makan bubur ayam. Ada yang mengatakan harus diaduk dulu baru dimakan, ada yang pula yang pantang mengaduknya dan hanya menikmati lapisan demi lapisan.
Hal yang lucunya, perdebatan ini sampai melebar ke mana-mana. Kelompok yang suka mengaduk bercanda bahwa yang tidak mengaduk itu psikopat, sementara kelompok yang tidak mengaduk mengklaim punya kecerdasan emosional lebih tinggi. Semua merasa caranyalah yang paling benar, padahal yang dimakan ya tetap bubur ayam.
Hal yang sama pun mungkin sering terjadi dalam kehidupan rohani, khususnya saat kita menikmati firman Tuhan. Cara kita membaca, merenungkan, dan mengambil pesan firman bisa sangat berbeda satu dengan yang lain.
Ada yang suka membaca cepat lalu merenungkannya sepanjang hari. Ada yang menikmati ayat demi ayat dengan perlahan. Ada yang menulis catatan panjang, ada yang hanya menyimpan satu kalimat di hati. Metodenya berbeda, tapi tujuannya seharusnya sama, yaitu semakin mengenal Allah dan lebih dalam mengenal pribadi-Nya.
Alkitab sendiri tidak pernah memaksakan satu metode baku. Pemazmur berkata, "Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari" (Mazmur 119:97, TB2)
Ya, aku cinta pada ajaran-Mu. Aku membicarakannya sepanjang waktu. (VMD)
Oh, how I love your teachings! They are in my thoughts all day long. (GWV)
I deeply love your Law! I think about it all day. (CEV)
Di sini tidak dijelaskan bagaimana cara merenungnya, tetapi mengapa, yakni karena cinta kepada firman. Fokusnya bukan teknik, melainkan relasi. Paulus menegaskan hal serupa ketika ia menulis, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran" (2 Timotius 3:16, TB2)
Firman Tuhan bekerja bukan karena metode kita sempurna, tetapi karena Roh Kudus yang menghidupkannya. Cara kita menikmati firman boleh berbeda, tetapi esensinya satu, yaitu adalah kita datang dengan hati yang mau diajar. Masalahnya muncul ketika kita mulai merasa cara kita yang paling rohani dan cara orang lain kurang benar. Di titik itu, fokus kita bergeser dari firman kepada ego.
Yesus sendiri menegaskan bahwa yang terpenting bukanlah bentuk luarnya, melainkan respons hati, "Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar" (Markus 4:9, TB2)!
Mendengar, dalam pengertian Yesus, bukan sekadar menangkap bunyi, tetapi membuka diri untuk taat. Jadi, entah firman itu "diaduk" dengan diskusi panjang ataupun "tidak diaduk" dengan keheningan pribadi, pertanyaan terpenting tetap sama, yaitu apakah kita sungguh-sungguh semakin memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan dan membiarkan firman-Nya berbicara kepada kita setiap hari?
Mungkin hari ini Tuhan tidak mempermasalahkan cara kita membaca Alkitab. Yang Ia perhatikan adalah apakah kita benar-benar lapar dan haus akan kebenaran-Nya. Karena pada akhirnya, seperti halnya bukan soal sekadar bagaimana buburnya dimakan, tetapi lebih pada apakah kita benar-benar menikmati dan dikuatkan olehnya.
~ JP