
Victoria Osteen, istri dari seorang hamba Tuhan Joel Osteen, pernah mengatakan bahwa, "Dalam hidup, kita pasti akan berurusan dengan orang yang sulit. Jangan biarkan mereka membuatmu frustrasi dan mencuri sukacitamu."
Ya, hampir setiap hari, mungkin kita akan bertemu dengan orang-orang yang demikian. Seorang rekan yang sering mengkritik, teman yang sulit diajak untuk sepaham, tetangga yang menyebalkan, ataupun seorang dalam komunitas yang sikapnya menguji kesabaran. Reaksi pertama kita mungkin sering kali ingin marah, menghindar, ataupun marah.
Namun, firman Tuhan hari ini pun mengingatkan kita.
Amsal 27:17 (TSI), "Seperti besi diasah dengan besi agar menjadi tajam, demikianlah sesama kawan saling mengasah agar semakin baik."
Sama seperti besi menajamkan besi, demikian pula orang saling menajamkan pikiran dalam pembicaraan yang akrab. (FAYH)
Iron sharpens iron; so a man sharpens the countenance of his friend [to show rage or worthy purpose]. (AMP)
Justru melalui interaksi dengan orang-orang lain, karakter kita dapat ditempa. Tuhan pun mungkin mengizinkan orang-orang masuk dalam hidup kita untuk membentuk kerendahan hati, kesabaran, ketekunan kita, dan kedewasaan rohani.
Kita memiliki pilihan: untuk menjadi tumpul (bereaksi dengan dendam, sakit hati, mengasihani diri, pahit hati, dan kehilangan sukacita) atau menjadi tajam (merespons dengan iman, intropeksi diri, dan kasih)?
Sukacita kita tidak dicuri oleh orang lain jika kita menyadari bahwa Tuhan berdaulat atas setiap interaksi. Sukacita kita bersumber pada keyakinan bahwa Tuhan sedang berkarya untuk kebaikan kita, bahkan melalui orang yang sulit sekalipun. Kita menjaga sukacita dengan tetap berfokus pada Kristus, bukan sekadar pada perilaku orang lain.
~ Yuliana Sondakh