
Dalam sebuah teori yang bernama game theory (teori permainan), ada konsep yang dikenal juga dengan sebutan Prisoner's Dilemma atau dilema narapidana.
Bayangkan dua tahanan dipisahkan dan diinterogasi. Jika mereka saling percaya dan bekerja sama, hukuman mereka lebih ringan. Tetapi masalahnya, masing-masing takut dikhianati. Akhirnya, mereka memilih menyelamatkan diri sendiri—dan justru keduanya kalah.
Menariknya, teori ini mungkin sangat mirip dengan kehidupan rohani kita, di mana si jahat atau Iblis jarang menghancurkan manusia dengan serangan besar sekaligus. Iblis mungkin lebih sering memakai strategi membuat kita kehilangan rasa percaya satu sama lain. Sedikit ego. Sedikit curiga. Sedikit takut dirugikan. Lalu, kita mulai memilih "aman sendiri" daripada berjalan bersama, merendahkan hati, dan percaya saja.
Masalahnya, dalam hidup sehari-hari, kita mungkin sering berpikir seperti dilema tahanan atau narapidana tadi. Misalnya:
"Kalau aku terlalu baik, nanti dimanfaatkan."
"Kalau aku mengampuni duluan, nanti aku yang kalah."
"Kalau aku jujur sendiri, sedangkan yang lain curang, aku rugi."
Manusia yang saling curiga akan lebih mudah dipecah-belah. Demikian juga, keluarga retak karena rasa gengsi. Pelayanan hancur karena ego masing-masing. Persahabatan rusak karena asumsi. Semua orang sibuk memikirkan dan melindungi diri sendiri, sampai lupa bahwa Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam kasih. Renungkan sejenak kata-kata itu: hidup dalam kasih.
Yesus sendiri berkata: "Berbahagialah orang yang membawa damai" (Matius 5:9, TB2).
Blessed (enjoying enviable happiness, spiritually prosperous--with life-joy and satisfaction in God's favor and salvation, regardless of their outward conditions) are the makers and maintainers of peace, for they shall be called the sons of God! (AMP)
You're blessed when you can show people how to cooperate instead of compete or fight. That's when you discover who you really are, and your place in God's family. (MSG)
Membawa damai bukan berarti lemah, tetapi memilih untuk tidak ikut memainkan permainan ego yang sama. Jadi, bukankah lebih baik untuk lebih cepat meminta maaf, lebih lambat berprasangka, lebih berani percaya, dan lebih mau bekerja sama saja daripada saling menjatuhkan. Karena kadang kemenangan terbesar bukan saat kita berhasil mengalahkan orang lain, tetapi saat kita menolak dipakai Iblis untuk saling menghancurkan.
~ JP