
"Limited Edition". Tulisan pada sebuah produk di mall ataupun etalase digital.
Ada orang-orang yang rela antre berjam-jam. Ada yang datang sejak subuh. Ada yang saling dorong, panik, bahkan terjadi kekacuan hanya karena ingin membeli satu benda yang notabene diproduksi terbatas tadi.
Hanya karena merasa sesuatu itu unik, terbatas, apalagi banyak orang yang memperbincangkan, lantas rasa penasaran bertambah, dan "FOMO" (fear of missing out atau takut ketinggalan) meledak di berbagai tempat. Ditambah, kemungkinan besar manusia memang selalu tertarik pada sesuatu yang baru.
Atau, yang mencolok. Yang tidak biasa. Yang terasa eksklusif. Yang limited edition.
Kaitannya dengan kehidupan rohani, terkadang kita juga mungkin hanya ingin beribadah ataupun ke apabila merasa ibadahnya maupun gerejanya sedang terkenal, atau ada pembicara yang keren, dan hal-hal eksternal lainnya. Bukan karena sekadar ingin mencari Tuhan.
"Kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang," Tuhan Yesus mengingatkan (Yohanes 6:26, TB2).
Yesus menjawab, "Kukatakan kepada kalian, sebenarnya kalian mencari Aku bukan karena mengerti arti tanda-tanda ajaib yang Kulakukan, tetapi karena Aku memberi kalian makan dan kalian makan sampai kenyang." (FAYH)
Jesus answered, "You've come looking for me not because you saw God in my actions but because I fed you, filled your stomachs--and for free." (MSG)
Bagaimana dengan kita? Apakah kita pun seperti itu?
Haus akan suasana yang sekadar terasa rohani, tetapi malas membangun hubungan yang pribadi dan intim dengan Tuhan setiap hari. Senang datang ke even besar, tetapi jarang berdoa diam-diam di kamar. Ingin sesuatu yang "limited edition" hanya karena FOMO, dan bukannya sungguh-sungguh butuh.
Kadang kita terlalu sibuk antre mengejar sesuatu yang sepertinya limited edition itu, sampai lupa bahwa hadirat Tuhan sebenarnya selalu tersedia—tanpa berebutan, tanpa FOMO, tanpa harus viral di media sosial.
Jangan cuma mengejar sensasi, melainkan kejarlah hadirat-Nya dan kenallah Dia secara pribadi. Bukan karena sekadar ingar bingar ataupun pengalaman sesaat, tetapi karena hati kita sungguh-sungguh rindu kepada-Nya dan membutuhkan Dia.
~ JP