
Mungkin tidak banyak kita yang suka membaca Perjanjian Lama, misalnya kitab para nabi, seperti halnya pengakuan jujur dari istri saya. Namun, apabila kita menyempatkan diri untuk membacanya, pasti ada bagian-bagian yang dapat menjadi rhema ataupun pewahyuan serta berkat Tuhan bagi setiap kita.
Istri saya pun ketika mulai mencoba membaca kitab Nehemia, menemukan satu dari beberapa poin atau pelajaran penting yang dapat dipelajari dari nabi Allah itu. Salah satunya ialah mengenai kerendahan hati Nehemia, di mana ia selalu mengakui penyertaan tangan Tuhan dalam melakukan tugas-tugasnya, terutama dalam membangun kembali tembok Yerusalem, memperkuat kota tersebut, serta memperbarui kehidupan rohani umat-Nya.
Karena kerendahan hati mengakui pertolongan dan penyertaan Allah, maka Nehemia juga senantiasa berdoa—seperti yang kerap diingatkan oleh Pdt. Niko Njotorahardjo bagi kita untuk mengandalkan doa, doa, dan doa, terutama di hari-hari ini.
"'Bukankah mereka ini hamba-hamba-Mu dan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan tangan-Mu yang kuat? Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.' Ketika itu aku ini juru minuman raja." (Nehemia 1:10-11)
Dorongan hati pertama yang selalu terbit dalam diri Nehemia ialah berdoa.
Lihatlah, salah satu dari sekian peristiwa dalam kitab Nehemia adalah ia berdoa secara spontan kepada Allah. Masihkah kita juga seperti demikian? Mengandalkan doa, bahkan doa yang spontan kepada-Nya, seperti seorang anak yang berseru minta tolong kepada ayah atau ibunya?
Sangat penting bagi kita untuk berada di zona doa. Mengapa? Karena kebiasaan untuk berdoa secara berkala sepanjang hari akan membuka saluran kasih karunia, pertolongan, dan hikmat Allah di dalam hidup kita. Sebaliknya, melupakan ketergantungan kita kepada Allah dan hadirat-Nya sepanjang hari akan membatasi karya Roh Kudus di dalam hidup kita. Yang manakah yang ingin kita pilih?
Dari Nehemia, kita belajar mengandalkan doa dan melakukan bagian kita, serta tetap beriman di tengah berbagai tantangan kehidupan. Sebab, yang memberi kemampuan dan perlindungan bukanlah kecakapan atau kekuatan kita sendiri, tetapi pertolongan Tuhan.
Kerendahan hati Nehemia bukanlah bersifat pasif, melainkan ia juga tetap berencana, berstrategi, dan bekerja, namun ia menempatkan karyanya sebagai manusia bersama umat yang lain di bawah pengakuan kepada karya Allah. Dan alih-alih selalu mencari-cari pujian dari manusia, ia berfokus pada Allah sehingga menjauhkan kesombongan dari dirinya.
Setiap kita memiliki tanggung jawab pribadi, tetapi senantiasalah mengandalkan penyertaan Allah.
~ FG