
Sejenak kembali tentang pentingnya yang pernah kita bahas sebelumnya, yakni doa.
Dalam buku Prevailing Prayer karya Eli Wigle, ia menceritakan kehidupan doa John Wesley hamba Tuhan yang besar itu, "Sebagai suatu kebiasaan dan aturan, doa pribadi John Wesley biasanya menghabiskan dua jam sehari. Terkadang ia mengajak rekan-rekannya berdoa semalaman, ataupun sampai kuasa Allah dinyatakan.
"Tidak ada yang dirasa terlalu besar ataupun terlalu kecil untuk dibawa kepada Tuhan dalam doa. Ketika diserang rasa sakit di tengah berkhotbah, hingga ia tidak dapat berbicara, 'Aku tahu apa obatku,' katanya, dan segera berlutut. Seketika itu juga rasa sakitnya hilang. Ketika diserang rasa sakit, demam, dan batuk, hingga ia hampir tidak dapat berbicara, 'Aku memanggil nama Yesus dengan suara keras untuk menambahkan imanku. Sementara aku berbicara, rasa sakitku lenyap, demamku pergi, dan kekuatanku pulih.'
"Wesley mengguncang dunia dengan api semangatnya, karena ia telah mengguncang surga dengan api doa-doanya. Seruan pertobatannya menembusi hati nurani manusia, karena permohonannya telah menyentuh hati Allah terlebih dulu."
Hamba Tuhan yang besar itu menghabiskan sekitar dua jam setiap hari untuk berdoa, karena ia memandang doa sebagai kekuatan yang memurnikan dan memulihkan. Ia pernah berdoa, "Lengkapi apa yang kurang padaku, perbaiki apa yang salah dalamku, sempurnakan apa perlu dari diriku, ya Tuhan."
John Wesley juga tahu bahwa kehendak Allahlah satu-satunya rencana dan tujuan yang dijanjikan oleh Allah baginya.
Bagaimana dengan kita?
Masihkah kita menganggap remeh arti pentingnya doa, atau sudahkah kita menyadarinya serta betul-betul melakukannya, mengandalkan doa?
1 Yohanes 5:14 (TSI), "Dengan begitu, kita tidak merasa takut lagi datang ke hadapan Allah melalui doa! Bila permintaan kita sesuai dengan kehendak-Nya, Allah akan mendengar dan menjawab doa kita."
Dan kita dapat datang kepada-Nya dengan lebih dekat karena kita memiliki keyakinan bahwa Allah akan mendengar doa kita, jika kita meminta hal-hal yang sesuai dengan kehendak-Nya. (BSD)
And this is the confidence (the assurance, the privilege of boldness) which we have in Him: [we are sure] that if we ask anything (make any request) according to His will (in agreement with His own plan), He listens to {and} hears us. (AMP)
Daniel 6:10b (BIS), "Dan seperti biasanya, ia berdoa kepada Allahnya dan memuji-Nya tiga kali sehari dengan berlutut di depan jendela-jendela yang terbuka itu."
Daniel tetap berdoa dan mengucap syukur kepada Allahnya tiga kali sehari, sebagaimana kebiasaannya. (FAYH)
Three times a day he knelt there in prayer, thanking and praising his God. (MSG)
~ FG